Panen Raya Durian di Nganjuk Tidak Maksimal. Cuaca Tak Menentu jadi Penyebabnya!
Karen Wibi• Senin, 19 Januari 2026 | 18:36 WIB
DURIAN LOKAL: Petani durian di Kecamatan Ngetos kebingungan karena buah duriannya tidak bisa berbuah lebat karena hujan yang turun setiap hari di Kabupaten Nganjuk.
Mengintip Petani Durian di Kabupaten Nganjuk
Bulan Januari adalah waktu yang pas untuk berburu buah durian. Karena Januari menjadipanen raya durian. Sayangnya, di Nganjuk, panen raya tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Karena banyak pohon durian yang gagal berbuah. Hal ini membuat petani kebingungan.
KECAMATAN Ngetos menjadi salah satu sentra buah-buahan di Kabupaten Nganjuk. Sebut saja, mulai dari durian, rambutan, alpukat, hingga mangga ada di Kecamatan Ngetos. Mereka berbuah secara bergantian di setiap musimnya.
Di bulan ini, giliran buah durian dan rambutan yang sedang berbuah. Jika tidak salah jadwal, bulan Januari adalah puncak panen raya antara durian dan rambutan.
Namun jika kita ke Kecamatan Ngetos, hanya rambutan yang terlihat sudah memasuki panen raya. Buktinya? Ada ratusan pohon rambutan yang berbuah di sepanjang jalan. Warna rambutannya merah merona. Menandakan buah rambutan yang siap disantap.
Sedangkan durian? “Panen raya durian di tahun ini tidak maksimal,” kata Hiwan Sriwiji, 58, salah seorang petani durian asal Desa Blongko, Kecamatan Ngetos.
Ya, meski memasuki panen raya, jumlah panenan buah durian tidak maksimal. Jumlahnya jauh berkurang dibanding dengan panen raya di musim sebelumnya.
panen durian
Tidak tanggung-tanggung, menurut Hiwan, pengurangan jumlah panenan mencapai 60 hingga 80 persen per pohonnya. Hiwan memberikan contoh pohon durian miliknya. Di musim lalu, jumlah buah yang dihasilkan bisa mencapai 200 buah! Sedangkan di musim ini, jumlah buah yang dihasilkan tidak genap 40 buah.
Lalu apa penyebabnya? Menanggapi pertanyaan itu, Hiwan mengatakan penyebab utamanya adalah musim yang tidak menentu. Pada Oktober lalu, pohon durian di Desa Blongko mulai mengeluarkan bunga. Sesaat setelah mekar, hujan deras mengguyur. Bunga-bunga itu lalu rontok. Kondisi hujan itu juga yang menyebabkan proses penyerbukan gagal.
Beberapa petani sempat mencoba mengatasi masalah itu dengan penyemprotan obat. Namun penyemprotan sudah telat. Banyak bunga dari pohon durian yang sudah rontok terlebih dahulu. “Kalau cuacanya panas terus maka buah yang dihasilkan bisa maksimal,” tambahnya.
Minimnya hasil panen itu juga membuat harga durian melonjak. Di tahun lalu, para petani menjual durian di harga Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu. Namun saat ini harganya melonjak hingga Rp 30 ribu.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Pertanian (Perlintan) Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Nganjuk Agus Yuni Purwanto mengatakan, cuaca yang tidak menentu menyebabkan gagalnya proses penyerbukan buah. Salah satunya pada penyerbukan bunga tanaman durian. “Hujan terus-menerus bisa menyebabkan durian gagal berbuah hingga bisa dipanen,” ujarnya. (wib/tyo)