Kemarau Kekeringan, Musim Hujan Menjadi Pemancingan
Karen Wibi• Senin, 26 Januari 2026 | 13:54 WIB
CEGAH BANJIR: Waduk Sumberkepuh di Kecamatan Lengkong menjadi tempat pemancingan pada saat musim hujan.
Melihat Kondisi Waduk Sumberkepuh di Kecamatan Lengkong
Kabupaten Nganjuk memiliki satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi ketika akhir pekan. Yaitu, Waduk Sumberkepuh yang ada di Desa Sumberkepuh, Kecamatan Lengkong. Namun uniknya, waduk tersebut hanya bisa dikunjungi di musim penghujan. Karena saat musim kemarau, waduk tersebut akan otomatis menghilang.
KECAMATAN Lengkong menjadi salah satu kecamatan yang memiliki banyak waduk di Kabupaten Nganjuk. Jumlahnya lebih dari satu. Namun, di antara banyak waduk, Waduk Sumberkepuh menjadi yang paling besar.
Sehari-hari waduk tersebut dijadikan tempat wisata oleh warga sekitar. Namun uniknya, waduk tersebut hanya bisa dikunjungi di saat musim penghujan. Sedangkan, di saat musim kemarau, waduk tersebut menghilang.
IDOLA PEMANCING: Warga Nganjuk dan luar daerah memancing di Waduk Sumberkepuh, Kecamatan Lengkong saat musim hujan.
Ya, Waduk Sumberkepuh tidak memiliki sumber air sendiri. Waduk tersebut hanya bisa terisi dari aliran sungai kecil dan air yang berasal dari hujan. Saat musim kemarau, sungai-sungai kecil itu akan menghilang. Air hujan juga tidak lagi turun.
Lama-kelamaan air yang ada di waduk tersebut akan surut hingga tak tersisa apapun. “Kalau kemarau panjang, waduk ini pasti kering,” ujar Sutanto, 50, warga Desa Sumberkepuh, Kecamatan Lengkong kepada wartawan koran ini.
Kondisi itu sama sekali tidak membuat warga kaget. Bahkan, waktu surut Waduk Sumberkepuh sangat dinantikan oleh warga sekitar. Kok bisa? Jadi, saat surut, waduk akan berubah menjadi tanah lapang yang sangat luas.
Tanahnya tidak berubah menjadi tanah yang keras. Melainkan tanah yang lembek. Tanah yang dianggap pas untuk ditanami berbagai macam tanaman palawija.
Akibatnya, selama musim kemarau, para warga sekitar akan bercocok tanam di waduk tersebut. Waduk yang biasanya diisi dengan air akan berubah dipenuhi dengan tanaman jagung. “Bagian tengah tidak boleh ditanami. Takutnya akan merusak kondisi waduk. Sedangkan di bagian tepi boleh ditanami jagung,” tambahnya.
Saat musim hujan tiba, air akan kembali menggenangi waduk. Menjadikan waduk terlihat seperti waduk pada umumnya. Di waktu itu, warga tidak akan lagi bercocok tanam di waduk. Melainkan, hanya menggunakan waduk untuk irigasi.
Santoso, 43, salah satu petani asal desa tersebut mengaku menunggu-nunggu waktu waduk kering. Di waktu itu dirinya bisa menanam jagung. Hasil yang didapat juga bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. “Oleh pihak desa diperbolehkan untuk menanam jagung,” ujarnya. (wib/tyo)