KUNJUNGAN pelanggan ke Asem-Asem Kuncir tidak pernah sepi. Setiap harinya selalu ada puluhan hingga ratusan orang yang datang. Sayangnya, tidak semua pelanggan itu bisa merasakan asem-asem. Karena Sri Astutik, pemilik warung, hanya membuat sekitar 50 porsi per harinya.
Itu dilakukan bukan tanpa alasan. Menurut Sri, jumlah tersebut selalu disesuaikan dengan stok kaki dan kepala kambing yang ada di pasar. “Bukan saya tidak mau buat banyak. Tapi, karena adanya cuman segitu,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Sri menceritakan, setiap hari, dia selalu pergi ke Pasar Sawahan. Tujuannya adalah untuk mencari kaki dan kepala kambing. Setidaknya, dalam sehari, dirinya bisa mendapat sekitar 30 kilogram (kg) kaki dan kepala kambing. Sekitar 30 kg kaki dan kepala kambing itu yang lalu akan dibuat untuk menjadi asem-asem sebanyak sekitar 50 porsi.
Namun ternyata jumlah pelanggan di tempatnya selalu lebih dari 50 orang. Alhasil banyak orang-orang yang tidak kebagian asem-asem. Sebagai gantinya mereka akan membeli sate atau gule kambing. “Selain asem-asem, di sini juga ada sate dan gule,” tambahnya.
Porsi yang terbatas itu juga yang membuat orang-orang harus berebut asem-asem. Karena satu hingga dua jam setelah asem-asem jadi, puluhan porsi tersebut selalu ludes. “Sudah banyak yang pesan terlebih dahulu. Jadi, meski jam 10 menunya sudah matang, jam 11 kadang sudah habis,” tandasnya.
Lalu mengapa Sri tidak mau menambah porsi asem-asem? Menanggapi pertanyaan itu, Sri mengataka,n tidak mau jika harus mencari bahan kepala kambing dan kaki kambing di luar Pasar Sawahan. Menurutnya kegiatan itu bisa membuat jam bekerjanya berubah. Alhasil, alih-alih menambah porsi masakan, Sri lebih memilih untuk mempertahankan porsi yang sedikit itu. “Kalau harus ke Nganjuk kan ya jauh. Jadi ya seadanya saja,” pungkasnya. (wib/tyo)
Editor : Karen Wibi