NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Jelang datangnya bulan Ramadan, penjual bunga musiman mulai bermunculan di sejumlah sudut jalan. Terutama di kawasan Jalan Pace, Nganjuk. Kehadiran pedagang dadakan ini menjadi fenomena rutin setiap tahun, seiring meningkatnya tradisi ziarah makam masyarakat sebelum memasuki bulan puasa.
Salah satunya Saini, 68, pedagang bunga asal Cerme. Ia mengaku hanya berjualan pada momen tertentu, khususnya menjelang Ramadan dan Lebaran. Di luar waktu tersebut, perempuan paruh baya itu lebih banyak menjalani pekerjaan serabutan, termasuk bertani.
“Baru tiga hari ini jualan,” jelasnya. Menurutnya, berjualan bunga musiman menjadi cara sederhana untuk tetap produktif sekaligus menambah penghasilan tanpa harus bergantung pada keluarga. Ia mengaku kurang nyaman jika harus meminta uang kepada anaknya yang kini sudah berkeluarga dan tinggal di Surabaya. “Daripada menganggur di rumah. Walaupun hasilnya tidak besar, setidaknya ada pemasukan sendiri,” ujarnya saat ditemui di lapak sederhana pinggir jalan.
Saini menjelaskan, dirinya sengaja tidak berjualan bunga setiap hari. Selain faktor permintaan yang tidak stabil, ia juga menghormati pedagang lain yang sudah lebih dulu berjualan tetap di sekitar area makam. Karena itu, ia memilih berjualan hanya pada momen ramai peziarah.
Jenis bunga yang dijual umumnya bunga tabur seperti kenanga dan mawar. Bunga tersebut didapat dari area persawahan, kemudian diantar langsung ke lokasi jualan. Ia menyebut harga bunga saat ini cukup tinggi, mencapai sekitar Rp150 ribu per kilogram. “Sekarang mahal, padahal sebelumnya cuma Rp 30 ribu perkilo,” keluhnya.
Meski demikian, kenaikan harga tidak otomatis membuat keuntungan besar. Setelah dikurangi biaya kulakan dan operasional sederhana, ia mengaku rata-rata hanya memperoleh laba sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Ibu satu anak itu menjual paket bunga tabur lengkap seharga Rp5 ribu per bungkus. Paket kecil ini biasanya paling diminati peziarah karena praktis dan terjangkau.
Setiap hari, Saini membuka lapak sejak pagi hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Jika bunga belum habis terjual, ia menyimpannya untuk dijual kembali keesokan hari selama kondisinya masih layak.
Menurutnya, tren pembeli biasanya meningkat mendekati awal Ramadan dan beberapa hari sebelum Lebaran. Tradisi ziarah kubur menjelang puasa dinilai masih kuat di masyarakat sehingga permintaan bunga tabur relatif stabil setiap tahun. “Yang penting ada kegiatan dan bisa dapat sedikit rezeki. Lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (nov/tyo)
Editor : Karen Wibi