NGANJUK, Radar Nganjuk– Masyarakat di Kota Bayu nampaknya harus mulai bersiap menghadapi transisi cuaca. Meski hari ini sebagian besar wilayah Nganjuk masih diguyur hujan dengan intensitas ringan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan datang lebih awal, yakni pada April 2026 mendatang.
Pantauan cuaca hari ini menunjukkan kondisi langit di sebagian besar kecamatan di Nganjuk cenderung berawan. Kelembapan udara tercatat cukup tinggi mencapai 96 persen, dengan hembusan angin tenang di kisaran 6 kilometer per jam. Kondisi ini menciptakan suasana lembap di tengah guyuran gerimis tipis.
Baca Juga: Warga Nganjuk Menanti 'Napas' KA Lokal di Lima Stasiun
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa percepatan musim kemarau tahun ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari lalu. Saat ini, kondisi iklim global telah bergeser ke fase netral dan menunjukkan tren menuju El Nino.
"Pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28$ (netral). Kondisi ini diprediksi akan bertahan hingga Juni nanti," ujar Faisal dalam press rilis BMKG.
Baca Juga: Kompak! Bupati Marhaen dan Wabup Handy Tinjau Langsung Proyek Jalan di Prambon
Pergeseran fase ini berdampak langsung pada zona musim di Jawa Timur. Sebagian besar wilayah Jatim, termasuk Nganjuk, masuk dalam daftar wilayah yang akan memulai musim kemarau pada April 2026. Adapun puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus mendatang.
Menanggapi prediksi ini, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya para petani di Nganjuk, untuk tidak lengah. Peringatan dini yang dikeluarkan diharapkan tidak hanya menjadi informasi di atas kertas, tetapi diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan.
Baca Juga: Raperda Inisiatif DPRD Nganjuk: Bapemperda Sampaikan Jawaban Atas Pandangan Fraksi
Manajemen air, petani diharapkan mulai mengatur pola tanam dan cadangan air irigasi. Pemilihan varietas yakni dengan mempertimbangkan tanaman yang lebih tahan kekeringan (palawija) memasuki bulan April. Dan terakhir adalah Waspada kekeringan, mengantisipasi potensi krisis air bersih di wilayah rawan kekeringan saat mencapai puncak kemarau di bulan Agustus.