Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk AKBP Dokter Gigi Wahyu Ari Prananto

Novanda Nirwana • Kamis, 5 Maret 2026 | 11:01 WIB

Kepala RS Bhayangkara Nganjuk AKBP Dokter Gigi Wahyu Ari Prananto
Kepala RS Bhayangkara Nganjuk AKBP Dokter Gigi Wahyu Ari Prananto


Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Rumah Sakit Bhayangkara TK. III Nganjuk Wahyu Ari Prananto datang ke Nganjuk dengan bekal pengalaman panjang lintas daerah. Di balik seragam cokelat yang dikenakannya, terselip jas putih yang menjadi simbol dua mimpi yang akhirnya bertemu dalam satu jalan hidup, menjadi polisi dan menjadi dokter.

NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk

Pria asli Tuban itu sejak kecil bercita-cita menjadi polisi. Selepas sekolah, dia mencoba peruntungan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Takdir berkata lain, ia gagal.
Kegagalan itu tidak membuat Wahyu patah semangat. Dia mengambil jalan berbeda. Ia melanjutkan pendidikan sebagai dokter gigi di Universitas Hasanuddin.
“Masuk dokter gigi dulu, setelah itu baru dapat beasiswa masuk polisi jalur sumber sarjana,” tuturnya.
Tak disangka, dua mimpinya terjawab sekaligus. Gelar dokter ia kantongi, seragam polisi pun akhirnya ia sandang. “Jadi dua-duanya dapat, dokternya dapat, polisinya juga dapat,” ujarnya sambil tersenyum.
Karirnya sebagai dokter polisi membawanya berpindah-pindah daerah. Ia pernah menjabat Karumkit sejak 2008, bertugas lima tahun di Papua, tujuh tahun di Batu, lalu ke Bondowoso, hingga kini di Nganjuk.
Total 12 tahun ia habiskan di Papua. Di sana memberinya banyak pelajaran tentang kepemimpinan dan adaptasi. “Setiap daerah rumah sakit itu punya seni tersendiri untuk mengelola,” katanya.
Di Jawa Timur, menurutnya relatif sama. Namun, di luar Jawa, dinamika berbeda terasa lebih kuat.
“Perbedaan paling terasa itu dari semangat melaksanakan sesuatu sesuai aturan. Di Jawa satu-dua kali diberi tahu biasanya langsung bisa menyesuaikan. Di luar Jawa agak susah,” ungkapnya.
Perpindahan tugas, bagi Wahyu, bukan sekadar rotasi jabatan. Ia menyebutnya sebagai perjalanan memahami sisi-sisi adat istiadat Indonesia. Banyak teman, banyak pengalaman, dan banyak perspektif baru yang ia dapatkan.
Lima bulan terakhir, Wahyu mengabdi di Nganjuk. Ia menyebut kota angin itu luar biasa, aman, damai, tertib.
“Dibilang slow living ya slow living, dibilang ada dinamikanya ya ada dinamikanya,” katanya.
Soal kuliner, ia tak banyak kesulitan beradaptasi. Cita rasa Nganjuk, menurutnya, tak jauh berbeda dengan Tuban maupun Bondowoso. Harganya pun relatif terjangkau.
Sejak kecil, nasi pecel menjadi favoritnya. Ia juga penggemar nasi becek kuliner khas Tuban. “Cuma agak beda becek Nganjuk sama Tuban. Tuban itu pedas asin, kalau Nganjuk tidak terlalu pedas,” ujarnya.
Di tengah padatnya tugas, Wahyu memilih olahraga sebagai cara menjaga kebugaran sekaligus menumpahkan beban pikiran. Semua cabang olahraga ia sukai, namun tenis menjadi rutinitasnya.
Bahkan saat Ramadan, waktu ngabuburit kerap ia isi dengan bermain tenis bersama rekan-rekannya. Jika tak sempat, ia memilih berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD), memastikan pelayanan berjalan optimal.
Di bawah kepemimpinannya, Rumah Sakit Bhayangkara TK. III Nganjuk diharapkan tetap menjadi rumah sakit pilihan masyarakat Nganjuk. Ia berkomitmen menambah fasilitas, memodernisasi layanan, serta meningkatkan profesionalisme.
“Harapan saya rumah sakit ini semakin modern, semakin profesional, dan karyawannya semakin sejahtera,” tegasnya. (tyo)

Editor : Karen Wibi
#rumah sakit #nganjuk #rumah sakit bhayangkara