Jiyem dan keluarganya di Desa Kedungdowo benar-benar apes. Selama sembilan tahun terakhir, sudah ada dua rumah milik keluarganya yang roboh akibat longsor karena adanya erosi Sungai Widas. Hal itu yang membuatnya selalu waswas saat hujan.
“Rumah anak saya tinggal reruntuhan,” ujar Jiyem, warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk. Nenek berusia 58 tahun ini selalu waswas saat hujan deras. Karena rumah anaknya yang mepet dengan rumahnya sudah ambruk. Rumah tersebut adalah milik sang anak, Desi Wirawati yang roboh pada Sabtu (11/4).
Kemarin, rumah anak Jiyem hanya tinggal puing-puing. Rumah dengan ukuran 6x8 meter itu roboh setelah terdampak tanah longsor di sepanjang Sungai Widas. “Sudah sejak lima bulan terakhir tanahnya terus hilang kena longsor,” ujar Jiyem saat ditemui di rumahnya kemarin (13/4).
Tentu Jiyem sangat trauma dengan kejadian yang menimpa anak pertamanya itu. Karena sebelumnya, di tahun 2017, rumah milik saudara Jiyem juga roboh hingga rata dengan tanah. Penyebabnya sama, yakni terdampak erosi dari Sungai Widas. “Dulu setelah longsor di 2017 pernah ada perbaikan. Tapi di 2025 tanahnya kembali bergerak lagi,” imbuhnya.
Beruntung, Sabtu (11/4), rumah dalam keadaan kosong. Karena lima bulan sebelumnya, Desi, suami, dan empat anaknya sudah mengungsi. Keenam anggota keluarga itu mengungsi di rumah milik Jiyem. Alhasil tak ada korban luka atau jiwa dalam kejadian tersebut. Melainkan hanya korban materiil dari barang-barang yang dipastikan rusak.
Namun kini gantian Jiyem yang tidak bisa tenang. Alasannya karena rumahnya yang kini berada di tepi lokasi longsor. Bahkan jarak antara rumah dan bekas rumah milik Desi atau lokasi longsor kurang dari satu meter. Ditambah, saat ini, kondisi tanah di lokasi kejadian yang terus bergerak. “Dulu rumah saudara saya, terus gantian rumah anak saya, sekarang gantian rumah saya yang lokasinya di tepi sungai,” imbuhnya.
Kini, setelah kejadian, Jiyem tak pernah bisa tidur tenang di malam hari. Bahkan Jiyem sering tak tidur ketika hujan turun di malam hari. Dirinya masih was-was jika rumahnya terkena longsor. Hal itu yang membuat kondisi kesehatannya menurun sejak lima bulan terakhir.
Sebagai pilihan lain, Jiyem mengaku ingin pindah rumah. Rencananya dia bersama Desi dan keluarga akan mengontrak di salah satu rumah yang juga masih di Desa Kedungdowo. “Saya tidak kuat kalau harus ketakutan setiap hari,” tandasnya. (tyo)
Editor : Karen Wibi