NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Desi Wirawati, 40, korban longsor di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk dapat sedikit bernapas lega. Karena rencananya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk akan membangunkan rumahnya yang kena longsor yang sudah telah roboh.
Kepastian itu dikatakan langsung oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPRKPP) Kabupaten Nganjuk Mashudi Nurul Huda. Dia mengatakan, dalam waktu dekat, Pemkab Nganjuk akan membangun ulang rumah milik korban. “Kemarin (15/4) kami datang ke lokasi kejadian untuk melakukan diskusi. Hasilnya Pemkab Nganjuk akan membangun ulang rumah korban,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Namun sebelum dibangun, Pemkab Nganjuk akan lebih dahulu melakukan asesmen di lokasi kejadian. Asesmen tersebut akan dilakukan oleh DPRKPP Nganjuk dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk. Setelah asesmen, jika memungkinkan, BPBD Nganjuk akan melakukan perbaikan pada lokasi longsor. Salah satunya dengan membangun plengsengan di sepanjang lokasi rawan longsor. “Masih ada beberapa rumah yang terancam longsor. Jadi, lokasi tanah harus segera diperbaiki,” tambahnya.
Setelah pembangungan plengsengan rampung, DPRKPP Nganjuk baru bisa membangun ulang rumah milik Desi. Rencananya rumah dengan ukuran 6x8 meter itu akan dibangun di lokasi yang sama sebelum longsor.
Lebih lanjut Huda menjelaskan, selama proses perbaikan, korban diminta untuk mencari rumah kost atau kontrakan terlebih dahulu. Nantinya mereka akan menetap hingga rumah sudah benar-benar rampung dikerjakan. “Semoga dalam waktu dekat kami segera bisa melakukan pembangunan rumah korban,” imbuh mantan Camat Kertosono itu.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah rumah di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk roboh pada Sabtu kemarin (11/4). Penyebabnya tanah pada rumah yang tergerus aliran Sungai Widas. Beruntung tidak ada korban luka atau jiwa pada kejadian itu.
Meski demikian, kejadian tersebut masih membawa rasa takut pada sebagian warga. Salah satunya karena tanah di sekitar lokasi longsor yang masih terus bergerak. Warga takut jika longsor susulan masih dapat terjadi di kemudian hari. (wib/tyo)
Editor : Karen Wibi