RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM– Monumen Marsinah kini tampil dengan wajah baru. Ikon perjuangan buruh yang berada di pinggir jalan raya Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro tersebut telah diperbarui. Penataan ulang ini tidak sekadar mempercantik tampilan, tetapi juga mengubah fungsi kawasan menjadi ruang publik.
Pemerintah Kabupaten Nganjuk memastikan, pembangunan monumen tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor. Mulai dari pemerintah daerah, TNI, hingga Polri terlibat dalam proses pengerjaan hingga tuntas.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo, menjelaskan bahwa saat ini monumen sudah siap dan tinggal menunggu peresmian.
“Monumen Marsinah yang ada di pinggir jalan raya ini dibangun oleh pemda, TNI, dan Polri. Sekarang sudah jadi,” ujarnya.
Menurut dia, ke depan kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai rest area. Lokasinya yang strategis di jalur utama dinilai sangat potensial menjadi tempat singgah bagi pengguna jalan sekaligus ruang interaksi masyarakat.
“Harapannya, selain menjadi ikon sejarah, tempat ini juga bisa dimanfaatkan sebagai rest area. Jadi masyarakat bisa berhenti, beristirahat,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, pengembangan kawasan juga diarahkan untuk menggerakkan roda perekonomian lokal. Pemkab Nganjuk telah menyiapkan rencana penataan area di sisi barat monumen sebagai lokasi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Informasinya nanti akan dicoba di sebelah barat ada UMKM. Ini menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha. Jadi tidak hanya fasilitas umum, tapi juga ada pertumbuhan ekonomi,” imbuh Gunawan.
Kehadiran UMKM di sekitar monumen diharapkan mampu menciptakan pusat aktivitas baru. Pengunjung tidak hanya datang untuk berziarah atau berfoto, tetapi juga berbelanja dan menikmati produk lokal.
Di sisi lain, Pemkab Nganjuk juga tengah mematangkan peresmian Museum Marsinah yang lokasinya tidak jauh dari kawasan tersebut. Museum ini akan menjadi pelengkap sejarah perjuangan Marsinah sekaligus destinasi edukasi baru di daerah.
“Nantinya juga akan diresmikan Museum Marsinah. Ini akan menjadi museum kelima yang ada di Nganjuk,” paparnya.
Dengan kombinasi antara monumen, rest area, kawasan UMKM, dan museum, pemerintah berharap kawasan ini berkembang menjadi destinasi. Tidak hanya sebagai simbol perjuangan buruh, tetapi juga sebagai pusat edukasi, wisata, dan penggerak ekonomi daerah.
Peresmian oleh Presiden RI pada awal Mei mendatang diproyeksikan menjadi momentum penting. Selain menandai rampungnya pembangunan, juga menjadi langkah awal pengenalan kawasan Monumen Marsinah kepada publik.
Editor : rekian