Desa Sumberkepuh di Kecamatan Tanjunganom patut diacungi jempol. Desa tersebut berhasil meraih penghargaan di tingkat provinsi. Penghargaan tersebut berhasil didapat sebagai komitmen Desa Sumberkepuh dalam menurunkan angka stunting di Kota Angin.
PRESTASI membanggakan berhasil diraih oleh Desa Sumberkepuh, Kecamatan Tanjunganom. Kampung Keluarga Berkualitas (KB) di desa tersebut berhasil meraih juara III pada lomba Penguatan Kampung Keluarga Berkualitas Tingkat Provinsi Jawa Timur (Jatim) Tahun 2026 yang digelar oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Jatim.
Kepala Desa Sumberkepuh David Prasetyo mengatakan, Kampung KB di wilayahnya sudah berjalan sejak 2016. Sejak awal, pemerintah desa berkomitmen penuh mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas keluarga dan penurunan stunting. “Alhamdulillah dari pemerintah memberikan dukungan hingga akhirnya bisa juara III tingkat provinsi,” ujarnya.
Menurut David, dukungan tersebut diwujudkan melalui pengalokasian anggaran desa untuk berbagai kebutuhan kegiatan kader maupun masyarakat. Pemerintah desa juga berupaya memenuhi kebutuhan yang diajukan kader demi kelancaran program. “Komitmen saya otomatis mendukung sepenuhnya kegiatan-kegiatan yang ada di sini. Melalui anggaran dana desa, ibu-ibu kader meminta ini itu ya kami usahakan penuhi,” katanya.
Tak hanya pemerintah desa, partisipasi warga juga dinilai menjadi faktor penting keberhasilan Kampung KB Sumberkepuh. Terutama para kader yang aktif turun langsung ke masyarakat untuk memberikan pendampingan dan edukasi. “Warganya juga turut aktif, dalam arti ibu-ibu kader ikut mendorong warganya,” imbuhnya.
Sementara itu, Kabid Pengendalian Penduduk dan Sistem Informasi Keluarga (Dalduk dan Siga) Dinas PPKB Nganjuk Suyanto Cipto menjelaskan, Kampung Keluarga Berkualitas memiliki peran strategis dalam mendukung program nasional, termasuk percepatan penurunan stunting.
Menurut dia, saat ini pihaknya juga menyiapkan sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B. Diantaranya ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita non-paud. “Kami ranahnya menyiapkan sasaran MBG untuk 3B. Kader itu nanti juga monitoring di wilayah masing-masing,” jelasnya.
Dia menegaskan, program MBG memang tidak berkaitan langsung dengan program keluarga berencana. Namun, keberadaannya tetap selaras dengan upaya peningkatan kualitas keluarga dan penurunan angka stunting.
“MBG ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan program KB. Tapi bagaimana mendukung penurunan stunting itu jadi program nasional,” terangnya.
Karena itu, Kampung Keluarga Berkualitas dinilai memiliki peran penting dalam memastikan program pemerintah benar-benar tepat sasaran. Termasuk memastikan distribusi bantuan sampai kepada masyarakat yang berhak menerima. “Peran kampung berkualitas mendukung program nasional di antaranya ikut andil. Kemudian distribusinya juga harus tersampaikan kepada penerima yang berhak,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : rekian