Shelly Anggraini, Perjuangan Penyintas Kanker Tulang yang Sukses Jualan Kerajinan

Karen Wibi • Dipublikasikan Kamis, 14 Mei 2026 | 13:49 WIB
Malam itu (6/5), Shelly Anggraini, perempuan asal Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro sedang berada di toko kerajinan tangan miliknya
Malam itu (6/5), Shelly Anggraini, perempuan asal Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro sedang berada di toko kerajinan tangan miliknya

 

Shelly Anggraini divonis kanker tulang stadium tiga. Bahkan, untuk benar-benar sembuh, dia harus menjalani pengobatan sekitar sembilan tahun. Namun, Shelly tidak menyerah. Dia tetap berjuang keras untuk sembuh dan sukses.

 

Malam itu (6/5), Shelly Anggraini, perempuan asal Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro sedang berada di toko kerajinan tangan miliknya. Lokasinya ada di Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk. Sejak sore, perempuan yang akrab disapa Shelly itu lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk di kursi putih yang berada di belakang meja kasir.

Ketika pelanggan datang, Shelly langsung menyapa. Bertanya tentang bantuan apa yang bisa dilakukan oleh perempuan yang kini berusia 34 tahun itu. Total, selama satu malam, ada puluhan pelanggan yang bisa datang ke toko kerajinan tangan miliknya. “Kalau weekday ramainya di malam hari. Kalau weekend bisa ramai sepanjang hari,” ujar ibu satu anak itu.

Dari banyaknya pelanggan itu, menurut Shelly, dirinya bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah. Antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per bulannya. Bahkan jumlahnya bisa bertambah ketika dirinya mengikuti bazar di Alun-Alun Nganjuk.

Namun uniknya, bisnis yang digeluti oleh Shelly berawal dari ketidaksengajaan. Karena ternyata dirinya tidak benar-benar menyukai kegiatan menyusun manik-manik hingga menjadi gantungan kunci, gelang, atau barang lucu lainnya.

Semuanya itu berawal ketika Shelly terkena kanker tulang di tahun 2010 lalu. Saat itu, Shelly yang baru saja lulus dari SMAN 1 Kertosono sedang menjalani kuliah. Tiba-tiba saja, di semester awal berkuliah, Shelly divonis terkena kanker tulang di kaki kanannya. “Kaki kanan saya sering sakit. Setelah diperiksa ternyata terkena kanker,” tambahnya.

Hidup Shelly seakan-akan runtuh. Namun dirinya memilih untuk tidak menyerah. Dia menjalani pengobatan selama lima tahun penuh. Beruntung, di tahun 2015, Shelly dinyatakan sembuh. Namun, empat tahun selanjutnya, Shelly tidak bisa beraktifitas secara normal. Dirinya masih harus melakukan penyembuhan.

Nah, di 2019, Shelly berkeinginan untuk memiliki aktifitas. Namun, karena masih terbatas, Shelly akhirnya memilih untuk sering meluangkan waktu dengan membuat kerajinan tangan dari manik-manik. “Saya sebenarnya tidak suka membuat kerajinan tangan. Tapi mau gimana lagi, dulu pasca penyembuhan kanker saya bisanya cuman itu,” imbuhnya sembari tertawa kecil.

Namun tak disangka hal itu yang membuat Shelly ke tahap saat ini. Hidupnya berubah sejak saat itu. Bisnisnya terus berkembang. Hingga akhirnya dia membuka toko kerajinan tangan di salah satu kafe di Kecamatan Nganjuk. Selain itu, di sela-sela berjualan, Shelly juga sering mengikuti bazar yang ada di Nganjuk.

Tak disangka omzetnya terus naik. Dari yang mulanya hanya ratusan ribu menjadi puluhan juta. Kini dia memiliki empat karyawan. Tiga karyawan ditugasi untuk membuat kerajinan tangan untuk selanjutnya dijual. Sedangkan satu karyawan lainnya bertugas untuk menjadi kasir. “Alhamdulilah saya sangat bersyukur bisa di tahap saat ini,” pungkasnya. (tyo)

Editor : Karen Wibi
penyintas kanker tulang kerajinan tangan