Puluhan Bhikku dari Empat Negara Tempuh 35,7 Kilometer Jalan di Nganjuk
Karen Wibi• Kamis, 21 Mei 2026 | 19:06 WIB
Puluhan biksu atau bhikku saat melewati jalan di Kecamatan Bagor
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Rabu, 20 Mei 2026, menjadi hari bersejarah bagi Kabupaten Nganjuk. Alasannya, untuk pertama kalinya, sebanyak 58 Bhikku Hutan singgah di Kabupaten Nganjuk dalam perjalanan ke Candi Borobudur untuk menyambut Hari Raya Waisak 2026.
Dari informasi yang dihimpun koran ini, total terdapat 100 orang yang mengikuti tradisi Thudong atau tradisi perjalanan spiritual para bhikku. Dari 100 orang itu, sebanyak 58 diantaranya merupakan Bhikku Hutan yang berasal dari beberapa negara di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Bhikku Hutan sendiri merupakan anggota monastik Buddha yang mendedikasikan hidupnya untuk kesederhanaan. Rombongan tersebut juga diikuti oleh 10 pendamping. Ditambah dengan 32 orang panitia yang terdiri dari tim pendukung dan logistik operasional.
Ketua Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro Yang Cheng Wen mengatakan, puluhan bhikku tersebut menempuh perjalanan dari Bali menuju ke Candi Borobudur. Di dalam perjalannya, puluhan bhikku tersebut melewati Kabupaten Nganjuk. “Total perjalanan yang ditempuh di Kabupaten Nganjuk sekitar 35,7 kilometer (km),” ujar pria yang akrab disapa Roy itu.
Di Nganjuk, rombongan tiba di Kecamatan Kertosono sekitar pukul 11.00 WIB. Rombongan langsung menuju ke Kelenteng Poo San Sie Kertosono. Di sana para bhikku melakukan istirahat sekitar 90 menit. Hingga selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Stasiun Baron. Di sana para bhikku kembali beristirahat selama sekitar 15 menit. Hingga perjalanan kembali dilanjutkan ke Kelenteng Hok Yoe Kiong yang berada di Kecamatan Sukomoro.
Roy menjelaskan, kegiatan yang dilakukan oleh puluhan bhikku itu dilakukan untuk menyambut Hari Raya Waisak 2026. Rencananya puluhan bhikku yang berasal dari beberapa negara ASEAN itu akan merayakan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur pada 31 Mei mendatang.
Selain itu, menurut Roy, ada tiga tujuan lain lagi dalam tradisi Thudong itu. Pertama yakni sebagai sarana pengembangan diri, melatih kesabaran, dan ketabahan mental oleh para bhikku. Selain itu kegiatan digunakan sebagai sarana untuk memperkuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Terakhir kegiatan tersebut digunakan untuk kampanye perdamaian. “Selama di perjalanan, para bhikku terus mensosialisasikan kampanye perdamaianan antar umat beragama,” tandasnya.
Lebih lanjut Roy menjelaskan, sebelumnya, tradisi Thudong pernah dilakukan oleh puluhan biksu dari negara ASEAN. Namun tradisi Thudong dari Bali ke Candi Borobudur baru pertama kali dilakukan di tahun ini. “Jadi ini menjadi momen yang sangat-sangat bersejarah,” tandasnya.
Sementara itu, hari ini (21/5), puluhan bhikku dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Rencananya, sekiar pukul 07.30 WIB, para bhikku akan melanjutkan perjalanan. Nantinya mereka akan menuju ke Pendapa KRT Sosrokoesoemo terlebih dahulu. Setelah itu perjalanan akan dilanjutkan ke Kabupaten Madiun. (wib)