Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Warga Nganjuk Beralih ke Pertalite Eceran, Penjual Kebanjiran Pembeli

Novanda Nirwana • Minggu, 21 Juni 2026 | 08:06 WIB
ilustrasi afrizal saiful mahbub/jprk
ilustrasi afrizal saiful mahbub/jprk

Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-Subsidi di Kota Angin

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)  Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026 sangat berpengaruh bagi  masyarakat. Pengguna Pertamax mulai beralih ke Pertalite yang harganya hanya Rp 10 ribu per liter. Bahkan, karena tidak bisa membeli Pertalite di SPBU karena tidak memiliki barcode My Pertamina, warga Kota Angin memilih beli Pertalite eceran. 

"Satu botol sekitar 1,5 liter itu ada yang jual Rp 17 ribu dan ada yang jual Rp 18 ribu," ujar Cahyo Nugroho, 45, warga Kertosono. Meski lebih mahal Rp 2 ribu-Rp 3 ribu dari harga Pertalite di SPBU tetapi Cahyo tidak mempersoalkan. Dia tetap membeli Pertalite eceran. Karena baginya, harga Rp 17 ribu-Rp 18 ribu itu lebih murah dibandingkan Pertamax. Karena satu liter Pertamax harinya Rp 16.250. Jika 1,5 liter Pertamax maka uang yang harus dikeluarkan Rp 24.375. "Sekalian kasih rezeki ke penjual bensin eceran," ujarnya. 

Menurut bapak satu anak ini, dia merasa 

membeli Pertalite eceran lebih praktis dibanding harus beli di SPBU. "Tidak perlu barcode atau antre," imbuhnya. 

Kondisi tersebut mulai dirasakan oleh sejumlah pedagang bensin eceran di Kabupaten Nganjuk. Salah satu penjual bensin eceran di Desa Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom Jarwati, mengaku penjualannya meningkat sejak harga Pertamax mengalami kenaikan. “Pertamax naik ini ya Alhamdulillah lumayan ramai Pertalite ecerannya,” ujarnya.

Menurut perempuan berusia 43 tahun itu, banyak warga yang sebelumnya membeli BBM langsung di SPBU kini beralih membeli eceran. Selain pertimbangan harga, faktor antrean panjang di SPBU juga menjadi alasan warga memilih membeli bensin eceran. “Soalnya kalau beli Pertalite di SPBU antre panjang, jadi warga memilih untuk beli di eceran,” katanya.

Ia menyebut, keuntungan yang didapat dari setiap botol bensin yang dijual sekitar Rp 1.500. BBM tersebut dibeli dari toko dengan harga Rp 16.500 per botol, kemudian dijual kembali kepada warga seharga Rp 18.000. “Keuntungannya per botol Rp 1.500,” jelasnya.

Dalam sehari, dia biasanya menyediakan stok sekitar 10 botol. Jika permintaan meningkat, jumlah stok akan ditambah menyesuaikan kondisi pembeli. “Saya nyetoknya sehari 10 botol saja. Kalau ramai ya tambah lagi,” ungkapnya. (nov/tyo)

 

Editor : Hadi Sujatmikho
#harga Pertamax #Pertalite eceran #BBM Nganjuk #harga BBM 2026 #Pertamax naik