MEMBANGUN sekolah murah di Kecamatan Sawahan ternyata bukan perkara mudah. Banyak perkara yang harus dihadapi oleh Mirza Idham Saifuddin. Salah satunya adalah anak broken home yang rawan putus sekolah.
Ketua Yayasan Chony Zamani, Mirza Idham Saifuddin, mengungkapkan bahwa sebagian besar siswanya tidak tumbuh dalam kondisi keluarga yang utuh. Tidak sedikit di antaranya berasal dari keluarga broken home dan tinggal bersama orang tua tunggal atau bahkan dititipkan kepada kakek dan nenek. “Banyak anak-anak di Sawahan ini tidak tumbuh di keluarga yang harmonis. Ada yang broken home, ada yang dititipkan ke neneknya,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada proses pendidikan. Dalam sejumlah kasus, siswa harus absen dari sekolah karena bertanggung jawab merawat anggota keluarga yang sakit, terutama nenek yang menjadi pengasuh utama mereka. “Pernah ada siswa tidak masuk sekolah karena neneknya sakit. Jadi dia harus menjaga neneknya itu,” kata Mirza.
Situasi itu membuat persoalan pendidikan di wilayah tersebut tidak bisa hanya dilihat dari sisi ketersediaan sekolah. Menurutnya, tantangan utama justru terletak pada kondisi sosial yang membentuk kehidupan sehari-hari siswa. “Bagaimana mau mendapatkan pendidikan yang bagus kalau dia sendiri masih harus merawat keluarganya di rumah,” ujarnya.
Untuk menjawab kondisi tersebut, pihak sekolah dan yayasan kemudian mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel. Salah satunya melalui program les privat dengan sistem guru mendatangi langsung rumah siswa.
Program ini dirancang agar proses belajar tetap berjalan meski siswa tidak dapat hadir ke sekolah secara penuh akibat kondisi keluarga. “Sebagai solusi, kami ada les privat. Guru yang datang ke rumah siswa,” jelasnya.
Menurut Mirza, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pendidikan berbasis komunitas yang tidak hanya berfokus pada ruang kelas, tetapi juga menyesuaikan dengan realitas sosial peserta didik. Dengan cara ini, hak anak untuk tetap mendapatkan pendidikan diharapkan tetap terpenuhi meski berada dalam keterbatasan. (nov/wib)
Editor : rekian