Curhat Pedagang Angkringan di Kertosono, Sering Jadi Korban Pelecehan Saat Melayani Pembeli
Menjadi pedagang angkringan seksi tak selamanya menyenangkan. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya ketika lelaki hidung belang berdatangan.
“Kita di sini niatnya cuman jualan. Tidak yang lain-lain,” ujar Bunga (Bukan nama sebenarnya, Red). Kalimat itu muncul bukan tanpa alasan. Bunga bercerita, selama menjadi pedagang angkringan seksi, Bunga sering mendapat perlakuan yang tidak senonoh. Mayoritas perlakuan itu berasal dari laki-laki hidung belang. Sudah tak terhitung berapa kali Bunga mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan.
Mayoritas perbuatan tidak mengenakkan itu adalah pelecehan verbal yang dilakukan oleh para laki-laki hidung belang. Selain itu, tak sedikit laki-laki hidung belang yang nekat melakukan pelecehan fisik kepada para pengusaha angkringan seksi. Apakah Bunga melawan? Tentu saja iya. Bunga pasti melawan. Jika hanya pelecehan verbal, Bunga bisa mengabaikan begitu saja.
Namun jika sampai pelecehan fisik, Bunga tak akan segan untuk menegur secara halus. Namun jika masih nekat, Bunga tak akan sungkan untuk melaporkan kejadian itu ke salah satu teman pria yang sudah berjaga-jaga. “Di sini saya ada yang jaga. Kalau macam-macam langsung dilaporkan,” tambah perempuan asal Kecamatan Kertosono.
Sayangnya, tidak semua seberani Bunga. Karena ternyata masih banyak pedagang angkringan seksi yang memilih untuk diam. Dengan dalih hal itu dilakukan agar pelanggan betah dan mau datang kembali. “Kalau hidup tidak butuh uang, pasti tidak ada yang mau jualan di sini,” tandasnya menjelaskan alasan mengapa pengusaha angkringan seksi banyak yang memilih diam.
Banyaknya pelecehan itu yang membuat Bunga harus waspada. Karena jika tidak, bisa saja Bunga terjerumus ke hal yang tidak diinginkan. Salah satunya dunia prostitusi. Ya benar, pengusaha angkringan seksi benar-benar dekat dengan dunia prostitusi. Tidak sedikit Mami Pur (bukan nama sebenarnya,red) yang mengajak pedagang angkringan seksi untuk berkolaborasi. Namun alih-alih mengiyakan, Bunga dan beberapa pengusaha angkringan seksi lainnya akan memilih untuk menolak.
Kini Bunga memilih untuk fokus bekerja seperti pedagang pada umumnya. Dia mengaku cukup dengan apa yang didapat sehari-hari. Toh, jika semuanya lancar, Bunga bisa membawa pulang Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Menurutnya uang tersebut sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari di Nganjuk. “Kerja di sini harus kuat iman. Sama harus ingat keluarga di rumah,” pungkasnya. (wib/tyo)
Editor : Miko