Harga Pupuk Nonsubsidi Melonjak, Petani Bawang Merah Nganjuk Kian Terjepit

Karen Wibi • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:58 WIB
PUSING TUJUH KELILING: Petani brambang pusing karena harga pupuk nonsubsidi melonjak drastis. (karen wibi/jprk)
PUSING TUJUH KELILING: Petani brambang pusing karena harga pupuk nonsubsidi melonjak drastis. (karen wibi/jprk)

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk menghadapi tekanan ganda pada musim tanam kali ini. Setelah dihantam serangan hama ulat grayak, mereka kini juga harus menanggung kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang disebut mencapai hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat sehingga dikhawatirkan semakin membebani petani.

Salah seorang petani bawang merah di Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang, Siman, 50, mengatakan harga pupuk nonsubsidi mulai merangkak naik sejak awal bulan.

Menurutnya, kenaikan harga terjadi beriringan dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), meski ia tidak dapat memastikan hubungan langsung antara keduanya.

"Naiknya cukup drastis sejak awal bulan. Waktunya hampir bersamaan dengan kenaikan harga BBM," ujarnya kepada wartawan.

Harga NPK Naik Rp100 Ribu per Karung

Siman menjelaskan, pupuk NPK menjadi salah satu kebutuhan utama selama masa budidaya bawang merah.

Sebelum terjadi kenaikan harga, pupuk NPK kemasan 20 kilogram dijual sekitar Rp250 ribu per karung atau sekitar Rp12.500 per kilogram.

Kini, harga pupuk dengan ukuran yang sama mencapai sekitar Rp350 ribu per karung atau setara Rp17.500 per kilogram.

Artinya, terjadi kenaikan sekitar Rp100 ribu per karung atau Rp5.000 per kilogram.

Menurut Siman, besaran kenaikan memang berbeda pada setiap merek, tetapi tren kenaikan hampir dirasakan oleh seluruh petani.

"Setiap merek beda-beda, tapi rata-rata naik di kisaran itu," katanya.

Biaya Produksi Membengkak

Kenaikan harga pupuk membuat biaya budidaya bawang merah ikut meningkat.

Di saat yang sama, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pestisida guna mengendalikan serangan ulat grayak yang menyerang tanaman sejak awal musim kemarau.

Siman mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten dengan harapan mendapat solusi, termasuk terkait ketersediaan pupuk.

Namun hingga kini ia mengaku belum memperoleh bantuan pupuk bersubsidi.

"Biaya produksi sekarang jauh lebih besar. Harga pupuk naik, sementara tanaman juga sedang diserang hama ulat," ujarnya.

Disperta: Banyak Faktor Pengaruhi Harga Pupuk

Sekretaris Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Nganjuk, Agus Yuni Purwanto, mengatakan harga pupuk nonsubsidi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari biaya distribusi, harga bahan baku, hingga kondisi pasar.

Menurutnya, kenaikan harga BBM dapat menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi biaya produksi dan distribusi pupuk.

"Harga pupuk nonsubsidi bisa dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya biaya distribusi yang ikut berubah ketika harga BBM naik," jelasnya.

Ia mengimbau petani menggunakan pupuk secara efisien sesuai kebutuhan tanaman agar biaya produksi tetap terkendali tanpa mengurangi produktivitas lahan.

(wib/tyo)

Editor : Miko
pertanian nganjuk petani bawang merah harga pupuk nonsubsidi pupuk NPK Disperta Nganjuk