Hanya Ingin Isi Waktu Luang, Bukan untuk Cari Uang
NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Nganjuk sedang berada dalam fase penting dalam perkembangan tenaga kerja. Dari sekitar 1,15 juta penduduk, sebanyak 663 ribu orang masuk dalam kelompok usia kerja.
Peluang untuk mendapatkan pekerjaan sebenarnya semakin terbuka. Sejumlah industri baru bermunculan, termasuk di kawasan Kawasan Industri Nganjuk (KING).
Namun, di tengah peluang tersebut, persoalan pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nganjuk mencatat sekitar 25 ribu penduduk masih menganggur pada 2025. Kelompok lulusan SMA dan SMK menjadi salah satu yang cukup banyak masuk dalam angka tersebut.
Di balik data itu, ada cerita lain tentang bagaimana sebagian anak muda memandang pekerjaan.
Bagi sebagian Gen Z, bekerja ternyata bukan sesuatu yang harus dilakukan secepat mungkin setelah lulus sekolah.
Safitri dan Pilihan untuk Tidak Terburu-buru Bekerja
Salah satunya Safitri Yulianingsih, 23, warga Desa Ngujung, Kecamatan Gondang.
Perempuan yang sudah menyelesaikan pendidikan SMK itu mengaku belum menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utama. Baginya, bekerja bukan sesuatu yang harus dilakukan hanya demi mendapatkan penghasilan.
“Sampai sekarang belum kepikiran untuk ingin benar-benar bekerja,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Bukan berarti Safitri sama sekali tidak pernah mencoba bekerja. Sejak lulus SMK, dia sudah sempat keluar masuk lebih dari tiga perusahaan.
Namun, persoalannya bukan soal tidak mendapatkan pekerjaan.
Safitri justru merasa kurang nyaman dengan pola kerja yang menurutnya terlalu banyak tekanan dan target.
Ketika target pekerjaan dirasa terlalu tinggi, dia memilih mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain.
“Nanti tinggal mencari pekerjaan lainnya,” tambahnya.
Bagi Safitri, keputusan keluar dari pekerjaan bukan sesuatu yang terlalu sulit. Ketika merasa tidak cocok dengan lingkungan kerja, dia memilih berhenti dan menghabiskan waktu dengan aktivitas lain.
Ketika Target Kerja Jadi Beban
Fenomena seperti ini ternyata juga menjadi perhatian Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Nganjuk.
Kepala Disnaker Nganjuk Itsna Shofiani mengatakan, karakter sebagian pekerja dari kelompok Gen Z memang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Salah satu persoalan yang kerap ditemui adalah kemampuan beradaptasi dengan tekanan dan target pekerjaan.
“Orang-orang menyebutnya dengan Generasi Strawberry, mereka lebih nyaman bekerja tanpa target dan tekanan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurut Itsna, terlihat dari cukup banyaknya pekerja muda yang berpindah-pindah perusahaan.
Mereka bisa saja masuk ke sebuah perusahaan, bekerja selama beberapa waktu, kemudian memilih mengundurkan diri ketika merasa bosan atau tidak nyaman dengan tekanan pekerjaan.
Menariknya, fenomena tersebut membuat sejumlah perusahaan membuka kesempatan bagi mantan pekerjanya untuk kembali.
Keluar Saat Bosan, Kembali Saat Butuh
Menurut Itsna, beberapa perusahaan bahkan menyediakan lowongan khusus bagi eks-karyawan.
Skema tersebut memungkinkan mantan pekerja yang sebelumnya mengundurkan diri untuk kembali bekerja ketika mereka sudah siap atau membutuhkan pekerjaan.
“Banyak karyawan yang akan keluar ketika bosan atau terkena tekanan. Nanti kalau sedang butuh uang, mereka akan kembali bekerja. Mereka masuk ke lowongan eks-karyawan,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan anak muda dengan dunia kerja kini tidak selalu berjalan satu arah.
Bekerja tidak lagi selalu dipandang sebagai sesuatu yang harus dipertahankan selama mungkin. Bagi sebagian anak muda, kenyamanan, lingkungan kerja, beban target, hingga keseimbangan waktu menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan bertahan.
Di sisi lain, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan dan pemerintah. Banyaknya lapangan pekerjaan saja belum tentu cukup jika karakter pekerjaan tidak sesuai dengan ekspektasi tenaga kerja muda.
Begitu pula sebaliknya, anak muda tetap perlu mempersiapkan kemampuan dan mental kerja agar mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia industri.
Sebab, di tengah bertambahnya kawasan industri dan peluang kerja di Nganjuk, tantangannya bukan lagi sekadar ada atau tidaknya pekerjaan.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana mempertemukan pekerjaan yang tersedia dengan tenaga kerja muda yang benar-benar siap dan mau menjalaninya.
(wib/tyo)
Editor : Miko