NGANJUK, RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM — Kecepatan dan ketelitian jemari menjadi penentu utama besaran penghasilan para buruh kupas bawang merah. Dalam menjalankan profesi ini, mereka pantang bersantai.
Pasalnya, skema upah tidak dihitung secara harian tetap maupun borongan, melainkan murni berdasarkan hitungan per kilogram bawang merah yang berhasil dikupas. Semakin banyak timbangan yang dikumpulkan, semakin tebal pula upah yang dibawa pulang ke rumah.
Rutinitas padat tersebut salah satunya terlihat di gudang milik Lilik, seorang tengkulak yang berlokasi di Dusun Templek, Kelurahan Sukomoro, Kecamatan Sukomoro.
Ketika wilayah Sukomoro belum memasuki masa panen, perempuan kelahiran 1971 ini biasanya mendatangkan sekitar 8 ton pasokan bawang merah langsung dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Setibanya pasokan tersebut di gudang, keesokan paginya proses pengupasan langsung digeber mulai pukul 07.00 WIB.
Lilik mengungkapkan bahwa ada lebih dari 50 buruh kupas bawang merah yang datang membantu, dengan upah kerja sebesar Rp 600 per kilogram. Muatan sebanyak 8 ton tersebut ditargetkan harus tuntas dikupas dalam rentang waktu 10 hingga 11 jam.
Jam operasional kerja para buruh kupas biasanya berakhir pada pukul 17.00 WIB atau 18.00 WIB, menyesuaikan dengan ketersediaan stok serta jumlah tenaga pengupas yang hadir.
Menurut Siti Mutikah, 45, salah seorang buruh kupas bawang merah asal Kelurahan Kapas, seluruh pekerjaan memang wajib diselesaikan pada hari itu juga.
Baca Juga: Breaking News! Ribuan Buruh di Nganjuk Padati Kawasan Museum Marsinah di Desa Nglundo, Sukomro
Pengupasan di tingkat tengkulak tidak bisa ditunda hingga esok hari agar bawang yang sudah bersih bisa segera didistribusikan ke pasar.
Dalam durasi kerja 10 jam, Siti mengaku pernah berhasil mengupas bawang merah hingga mencapai 1,5 kuintal dan mengantongi upah Rp 90 ribu per hari.
Peluang penghasilan ini terbilang menjanjikan, sebab jika dikerjakan secara rutin setiap hari dalam satu bulan, pendapatan buruh kupas bawang merah bahkan berpotensi melampaui Upah Minimum Kabupaten (UMK) Nganjuk yang berada di kisaran Rp 2,1 juta per bulan.
Pekerjaan ini juga menuntut fleksibilitas tinggi karena para buruh kerap berpindah-pindah lokasi mengikuti jadwal kedatangan barang di gudang-gudang penampung.
Informasi terkait titik pengupasan disebarkan secara berantai dari mulut ke mulut, sehingga tidak heran jika sebagian tenaga kerja yang datang berasal dari luar wilayah kecamatan.
Meski jasa kupas bawang merah terbuka bagi pria maupun wanita, profesi ini menuntut ketahanan fisik yang kuat.
Durasi kerja yang panjang memaksa mereka harus duduk seharian hingga kerap mengalami sakit pinggang, kaki kesemutan, serta telapak tangan yang menebal dan kasar akibat terus berhadapan dengan pisau dan bawang.
Kendati melelahkan, para buruh tetap antusias dan bahagia melakoni pekerjaan tersebut demi menambah pemasukan keluarga sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan rekan-rekan dari daerah lain.
Sumber : radarkediri.jawapos.com