Kisah Samsul Anam, Dari Penjual Asongan Kini Menjadi Kepala Desa Banjaranyar Nganjuk

rekian • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Kepala Desa Banjaranyar Nganjuk Samsul Anam (baju Merah) foto bersama rakyatnya.
Kepala Desa Banjaranyar Nganjuk Samsul Anam (baju Merah) foto bersama rakyatnya.

 

TANJUNGANOM, RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM – Hidup Samsul Anam bagaikan roda yang berputar. Pernah di bawah, kini di atas. Namun jalan yang ia tempuh tak pernah mulus. Ada jatuh, ada bangkit, ada air mata yang tertahan di balik senyum.

Samsul Anam, Kepala Desa Banjaranyar, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, kini genap berusia 51 tahun.

Di usianya yang tak lagi muda itu, ia menyimpan jutaan kisah yang hanya bisa diceritakan oleh mereka yang benar-benar merasakan pahitnya kehidupan.

Baca Juga: Semangat 45 Ketemu Semangat Dagang: Upacara Jadul di Banjaranyar Bangkitkan UMKM Desa di Nganjuk

Sejak remaja, ketika usianya menginjak 17 tahun, Samsul kecil telah ditempa oleh kerasnya dunia. Ia menjadi penjual asongan. Rotan, kopi, gorengan, apa pun ia jajakan demi membantu perekonomian keluarganya.

Tak jarang pula ia menjadi loper koran, mengayuh sepeda menyusuri jalanan kampung sebelum matahari meninggi.

"Insting bisnis saya ditempa sejak kecil," ujar pria yang kini dikenal sebagai pemimpin desa itu.

Baca Juga: Rayakan HUT RI ke-81, Desa Banjaranyar Tanjunganom Beri Gebrakan lewat Upacara Berkostum Jadul

Namun, semangat mudanya tak cukup di kampung halaman. Pada 1993, Samsul nekat merantau ke Pulau Sumatera.

Di tanah seberang, ia memulai babak baru sebagai penjual roti keliling. Kemampuannya berkomunikasi membuatnya dipercaya sebagai marketing roti di Palembang, bahkan hingga Bandung.

Namun, Samsul bukan tipe orang yang puas dengan menjadi anak buah. Ia berani mengambil langkah besar: memproduksi roti sendiri. Wilayah penjualannya ia pilih Kalimantan.

Baca Juga: Wow!! Bandara Dhoho Bikin Warga Banjaranyar Nganjuk Jadi Miliarder. Hari Ini Pencairan di Desa Kedungsuko

Di sana, usahanya berkembang pesat. Ia memiliki belasan cabang dan merambah hingga Jawa Tengah, tepatnya di wilayah Ngapak. Semua tampak berjalan mulus. Hingga badai datang.

Krisis moneter 1998 meluluhlantakkan segalanya. Bahan baku melonjak tinggi. Roda bisnisnya tersendat, lalu berhenti total.

"Semua bahan baku melonjak, saya tidak kuat," kenang Samsul dengan nada lirih.

Baca Juga: DPRD Nganjuk Tanggapi Mobil Siaga Desa Kutorejo di Alun-Alun Kota Batu: Harusnya Ada Tabayun!

Ia pun pulang kampung dengan tangan kosong. Ke Kota Angin, tempat ia memulai segalanya.

Dan di sanalah ia memulai kembali dari nol. Dari usaha travel, hingga bisnis perkayuan. Semua ia lakoni dengan penuh perjuangan dan keringat.

Pada 2013, takdir mempertemukannya kembali dengan kampung halaman. Warga Banjaranyar memintanya memimpin. Dan Samsul menerima dengan hati terbuka.

Baca Juga: Tol Kediri-Kertosono Kepras 229 Bidang Tanah di Desa Banjarnyar Nganjuk

Kini, di usianya yang kelima puluh satu, Samsul Anam bukan lagi penjual asongan atau marketing roti keliling. Ia adalah kepala desa yang terus berupaya membangun desanya.

Dengan tangannya yang pernah menggenggam roti dan koran, kini ia menggenggam mimpi warganya. Perbaikan akses jalan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai terobosan telah ia hadirkan untuk Banjaranyar.

Seolah ingin berkata, hidup memang keras, tapi ia telah membuktikan bahwa dari titik nol sekalipun, seseorang bisa bangkit dan menjadi pemimpin.

Editor : rekian
Desa Banjaranyar Samsul Anam krisis moneter Kecamatan Tanjunganom kepala desa