Mengenal Sesar Kendeng dan Segmen Pandan, Warga Nganjuk Diminta Waspada Tanpa Panik

rekian • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 04:22 WIB
Peta sesar Gunung Kendeng yang melintasi beberapa daerah termasuk di Rejoso Nganjukm
Peta sesar Kendeng yang melintasi beberapa daerah termasuk di Rejoso Nganjukm

 

NGANJUK, radarnganjuk.jawapos.com – Belakangan ini, Sesar Kendeng kembali ramai dibahas di berbagai media dan media sosial, terutama setelah pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PuSGeN) 2024. Hal ini membuat masyarakat bertanya-tanya: seberapa besar risikonya, dan apakah gempa besar akan terjadi?

Sesar Kendeng merupakan sistem sesar aktif yang menjadi bagian dari Java Back-arc Thrust dan membentang sekitar 300 kilometer dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Sistem ini terbagi atas enam segmen, yaitu Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang, Surabaya, dan Waru. Dalam kajian sumber gempa, beberapa segmen memiliki perkiraan kekuatan maksimum sekitar M6–M7. Misalnya, Segmen Surabaya sekitar M6,7 dan Waru sekitar M6,8. Angka tersebut bukan ramalan bahwa gempa akan segera terjadi, melainkan gambaran potensi sumber gempa berdasarkan karakteristik sesarnya.

Baca Juga: Gempa Guncang Tulungagung, Ini Penjelasan BMKG

Bagi masyarakat Nganjuk, Madiun, dan Bojonegoro, yang perlu diperhatikan adalah Segmen Pandan yang berada pada zona Segmen Cepu dengan panjang sekitar 18 kilometer. Jalurnya berada di sekitar perbatasan Rejoso, Nganjuk; Saradan, Madiun; dan Sekar, Bojonegoro. Segmen ini merupakan sesar naik (thrust fault). Kawasan tersebut juga pernah mencatat ratusan gempa swarm pada 2016, yaitu rangkaian gempa kecil yang terjadi berulang dengan magnitudo sekitar M1–M3 di Klangon–Saradan, Madiun, berdasarkan data Stasiun Geofisika Nganjuk.

Secara umum, zona Sesar Kendeng, termasuk Segmen Pandan, memiliki laju pergerakan sekitar 5 milimeter per tahun. Meskipun relatif lambat, pergerakan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat panjang sehingga tetap penting diperhitungkan dalam pemetaan risiko dan mitigasi gempa.

Baca Juga: Gempa M4.5 Guncang Pacitan Jawa Timur, Getarannya Dirasakan hingga Malang

Lalu, haruskah kita khawatir? Tidak perlu panik, tetapi tetap perlu waspada. Keberadaan sesar aktif tidak berarti gempa besar akan segera terjadi. Yang paling penting adalah mengurangi risiko, seperti memastikan bangunan cukup kuat, mengenali tempat berlindung dan jalur evakuasi, serta memahami tindakan yang harus dilakukan saat gempa.

Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan seberapa besar kekuatannya. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut gempa akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu. Ikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah.

Baca Juga: Gempa Dangkal Bermagnitudo 6,2 Guncang Perairan Maluku Barat Daya, BMKG Ingatkan Gempa Susulan

Sesar Kendeng bukan alasan untuk takut, tetapi alasan untuk lebih siap. Kenali risikonya dan tingkatkan kesiapsiagaan sejak sekarang. Waspada bukan berarti takut, tetapi siap menghadapi kemungkinan. 

Editor : rekian
Sumber : BMKG Nganjuk
sesar kendeng bmkg nganjuk bojonegoro madiun