Mengenal Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Kota Angin Kepala MTs Aisyiyah 1 Nganjuk//
Ajak Murid Berpikir Kritis dengan Menulis Buku//
Kepala MTs Aisyiyah 1 Nganjuk Aris Nasution memiliki cara untuk melatih siswanya berpikir kritis. Caranya dengan menulis buku. Dengan menyampaikan idea atau gagasan dalam menghadapi persoalan lewat tulisan, siswa bisa melakukan analisis. Hasilnya belasan buku telah diterbitkan.
“Total sebanyak 12 buku telah diterbitkan siswa MTs Aisyiyah 1 Nganjuk sejak tahun 2021,” ujar Kepala MTs Aisyiyah 1 Nganjuk Aris Nasution . Belasan buku itu tertata rapi di atas meja kerja Aris. Dia pun telah membaca semua buku tersebut.
Aris bercerita, buku tersebut adalah kumpulan karya siswanya. Isinya bervariasi. Mulai dari feature, artikel, hingga kisah perjalanan murid ketika melakukan kunjungan sekolah. Program itu pun sudah berlangsung sejak 2021 lalu. Yaitu ketika pandemi sedang ganas-ganasnya. Karena kegiatan belajar mengajar (KBM) terbatas, Aris mencoba mencari cara agar siswa memiliki kegiatan di rumah. Salah satunya adalah dengan cara menulis. Tujuannya pun sebenarnya bukan hanya karena untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu, Aris berpikir jika menulis adalah cara untuk mengasah otak agar mampu berpikir kritis.
Siswa pun diberi pilihan apa yang bisa mereka tulis. Mulai dari kegiatan selama pandemi hingga materi pembelajaran selama KBM secara online di pandemi. “Saya yakin dengan mereka sering menulis, maka akan tajam cara berpikir mereka,” ujar kepala sekolah asal Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro itu.
Beberapa tahun kemudian pandemi mereda. KBM bisa dilakukan secara langsung di sekolah. Namun tak membuat program menulis itu usai. Program tersebut terus dilanjutkan.Tulisan yang ditulis pun lebih bervariatif.
Yang paling banyak tentang kegiatan perjalanan murid di luar sekolah. Salah satunya ketika para murid berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Mengenal Pahlawan Tanpa TandaJasa(6) Kepala SMAN 1 Pace Endang Warniati Terapkan Jumat Keramat
Selama perjalanan murid diminta untuk menulis. Jatahnya adalah satu tulisan per harinya. Nantinya tulisan tersebut akan dikumpulkan jadi satu. Diedit lalu dicetak dalam satu buku. “Selain melatih kemampuan berpikir kritis, buku yang dicetak dapat menjadi kenang-kenangan siswa,” tambahnya.
Untuk memotivasi siswanya, Aris mengaku juga sering ikut menulis. Nantinya tulisannya tersebut akan diupload di salah satu grup WhatsApp (WA) yang ada siswa di dalamnya. “Saya pun membiasakan diri untuk menulis agar bisa jadi contoh bagi para siswa,” tandasnya.
Kemungkinan besar buku siswa MTs Aisyiyah 1 akan bertambah. Karena saat ini ada lima buku yang sedang dalam proses. Rencananya dalam waktu dekat kelima buku tersebut akan segera dicetak. “Semoga tahun ini bisa tambah lima buku,” harapnya.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk