Kepala SMAN 1 Berbek Imam Mujahit memiliki banyak cara untuk meningkatkan kepercayaan diri siswanya. Salah satunya dengan melatih mereka untuk berani berwirausaha.
Kepala SMAN 1 Berbek Imam Mujahit sangat sibuk. Sekitar pukul 10.00 WIB dia harus berkeliling ke beberapa kelas. Tujuannya banyak. Selain mengecek kondisi sekolah, dirinya juga memberi semangat pada murid-muridnya.
Kegiatan itu sudah dilakukannya sejak pertama kali menginjakkan kaki di SMAN 1 Berbek enam bulan lalu. Ya, Imam baru setengah tahun menjabat Kepala SMAN 1 Berbek. Meski sebentar, sudah banyak hal yang diubah menjadi lebih baik oleh Imam.
“Saya baru satu semester di SMAN 1 Berbek,” terangnya kepada wartawan koran ini.
Salah satu perubahan yang dia bawa adalah kebiasaan berkeliling ke kelas-kelas. Tujuannya adalah memberi semangat dan motivasi pada murid-muridnya. Tentu itu adalah hal yang jarang dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Namun Imam mengaku senang melakukan hal itu.
Banyak hal yang bisa dia sampaikan kepada murid-muridnya. Salah satunya adalah memberi wejangan kepada murid untuk tak lelah menggapai cita-cita mereka.
“Paling sering berkeliling ya di hari Senin. Namun di hari lainnya juga,” tambahnya.
Tentunya bukan hanya wejangan yang membuat siswa lebih semangat. Namun, juga tindakan yang dilakukan oleh Imam bersama guru-guru lainnya. Contohnya adalah dengan mengajak siswa untuk berani berwisausaha.
Beruntung, sejak lima tahun lalu, SMAN 1 Berbek telah bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kerja sama tersebut meliputi beberapa kelas ekstrakurikuler. Salah satunya adalah tata boga.
“Untuk modal ilmu anak-anak sudah ada, tinggal berani terjun langsung ke lapangan,” sambungnya.
Imam pun mengajak murid-muridnya untuk berwirausaha. Salah satunya dengan berjualan di depan sekolah pada Bulan Suci Ramadanp lalu. Tak diduga minat anak didiknya di luar ekspektasi. Mereka sangat antusias ketika diajak untuk berjualan.
Menu-menu yang dijual pun dibuat sendiri oleh para siswa. Mulai dari makanan berat, minuman, hingga snack. Antusias mereka berjualan membuat pembeli berdatangan.
“Produk-produk mereka juga sudah banyak yang dipamerkan. Terutama di pameran sekolah double track di Kota Surabaya,” tambahnya.
Dari proses itu akhirnya banyak siswa yang memberanikan diri membuka usaha. Mayoritas mereka membuka usaha skala rumahan. Sistemnya menggunakan delivery order (DO). Pesanan pembeli akan diantar setelah kegiatan belajar mengajar (KBM).
“Kami memang berniat untuk meningkatkan akademik dan non-akademik secara bersamaan,” pungkasnya.