Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk mengadakan bazar selama Bulan Suci Ramadan. Bazar itu diadakan di halaman kantor Pemkab Nganjuk.
Total ada puluhan stan bazar dalam kegiatan itu. Mayoritas yang dijual adalah makanan dan minuman.
Selain itu, ada juga stan yang menjual pakaian. Di antara puluhan stan itu, ada sebuah stan yang tampak berbeda.
Karena stan itu tidak menjual makanan, minuman, atau bahkan pakaian. Melainkan lukisan.
Ya, lukisan. Total ada puluhan lukisan yang berada di stan bazar tersebut.
Baca Juga: Pemkab Nganjuk Wujudkan Nganjuk Smart City untuk Cek Macet, Keamanan, dan Pelayanan Publik
Di depan stan itu tampak seorang pria lanjut usia (lansia) yang sedang melukis. Tangan kirinya memegang palet untuk melukis.
Sedangkan, tangan kanannya memegang kuas. Pria tersebut bernama Istiyono.
Pria yang kini berusia 62 tahun itu memang seorang pelukis. “Saya sudah hobi melukis sejak kecil.
Namun baru benar-benar full menjadi pelukis sejak 2012,” terang pria yang rumahnya di Desa Kerepkidul, Kecamatan Bagor itu kepada wartawan koran ini.
Baca Juga: Pengaruh Media Sosial terhadap Mental Health Gen Z
Sembari melukis, Istiyono menjelaskan, bagaimana awal mula dirinya menjadi seorang pelukis. Sayangnya, dia tidak ingat pasti sejak usia berapa dia melukis.
Namun yang pasti dia sudah hobi melukis sejak masih menjadi anak-anak.
Namun, selama itu, Istiyono tidak pernah benar-benar serius. Melukis hanya dijadikan hobi untuk mengisi waktu luang.
Pikirnya dulu pelukis tidak pernah bisa menghasilkan uang. Takutnya, saat tua nanti, dia bisa hidup miskin.
Baca Juga: Populer di Kalangan Atlet, Inilah Efek Buruk Steroid
Pikiran itu lambat laun berubah. Titik baliknya adalah ketika dia menempuh kuliah Sarjana Pendidikan Biologi di IKIP Surabaya sekitar tahun 1990.
Saat itu dirinya sedikit lebih serius menggeluti dunia lukis. Padahal, sesuai dengan pendidikannya, dia harusnya menjadi guru.
Tak diduga semuanya berjalan lancar. Istiyono bahkan sempat banjir pesanan. “Gara-gara itu juga kuliah saya molor jadi enam tahun,” ujarnya sembari terkekeh.
Namun hal itu tak membuat Istiyono benar-benar terjun ke dunia lukis. Baru setelah tahun 2012 dia masuk ke dunia lukis sepenuhnya.
Baca Juga: Perjalanan Cinta yang Menggetarkan Jiwa, Berikut Sipnosis Film Komang
Bermula dari Istiyono yang bekerja sebagai distributor barang hotel. Kala itu, sembari menawarkan barang ke hotel-hotel, dia juga menawarkan lukisan miliknya.
Tak disangka banyak pemilik hotel yang tertarik pada lukisannya.
“Akhirnya saya terkenal menjadi pelukis untuk lukisan di hotel-hotel. Mulai dari Surabaya, Pasuruan, Bali, dan masih banyak yang lainnya,” tandasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira