Teguh Setiawan Berhasil Cetak Atlet Berprestasi di Nganjuk
Namanya adalah Teguh Setiawan. Sehari-hari dia bekerja sebagai petugas keamanan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nganjuk. Namun di sela-sela pekerjaannya, Teguh juga menjadi seorang pelatih atlet taekwondo. Dengan mimpinya adalah untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi asal Kota Angin.
TEGUH Setiawan adalah pria yang benar-benar sibuk. Nyaris setiap hari waktunya dihabiskan untuk bekerja. Karena selain menjadi petugas keamanan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nganjuk, dia juga merupakan seorang pelatih. Lebih tepatnya adalah pelatih taekwondo.
Ya, benar. Teguh adalah seorang pelatih beladiri asal Korea Selatan. Setidaknya pekerjaan itu dia geluti sejak 2016 lalu. Setiap minggunya, sebanyak dua kali, dia akan melatih para atlet untuk bertanding. “Setiap minggu selalu melatih anak-anak. Totalnya dua kali seminggu,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Teguh bercerita, awal karirnya sebagai pelatih bermula pada 2016 lalu. Dimulai dari dirinya menawarkan brosur ke pengunjung di Alun-Alun Nganjuk. Menawarkan diri untuk menjadi seorang pelatih taekwondo.
Baca Juga: Bupati Nganjuk Guyur Diri di Sedudo, Tradisi Siraman Serap Ribuan Pengunjung
Bagi Teguh, awal mulai berkarir sebagai pelatih tentu tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah membangun kepercayaan calon anak asuh. Bahkan jika tidak salah mengingat, di awal melatih, jumlah muridnya hanya 30 saja. “Sampai saat ini terus bertambah. Dari yang semula 30 menjadi 100,” tambahnya.
Meski mulanya memiliki sedikit murid, Teguh tak mau menyerah. Dia tetap melatih sepenuh hati. Hingga ketekunan itu akhirnya berbuah manis. Yaitu ketika muridnya berhasil menjadi juara di sebuah kompetisi. “Pecah telur ini masuk juara umum 2 kategori pemula,” ungkap Teguh.
Setelah itu Teguh mulai dikenal. Jumlah anak didiknya terus bertambah. Usianya juga variatif. Mulai dari anak-anak hingga remaja. Namun uniknya, banyaknya anak didik tersebut kadang membuat Teguh sedikit pusing. Terlebih ketika harus melatih anak-anak. “Paling susah anak kecil karena masih kenakanak-kanakan,” ungkapnya.
Kesulitan melatih atlet remaja juga tak berbeda jauh dengan anak-anak. Terlebih ketika atlet tersebut sulit untuk dinasihati. Bahkan suatu ketika, menjelang kompetisi, Teguh memberi nasihat kepada seorang atlet untuk tidak begadang. Tujuannya untuk menjaga berat badan. Namun sebaliknya, atlet tersebut tetap begadang. Alhasil berat badan atlet tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan. “Pada saat sebelum lomba itu timbang dan ternyata beratnya kurang ya diskualifikasi langsung,” paparnya.
Baca Juga: Viral! Gunungan Hasil Bumi di Sedudo Diserbu Ribuan Warga, Ada Apa?
Meski begitu, semua lelah itu terbayar saat melihat perubahan murid-muridnya. Ada yang dulunya belum bisa, kini sudah mencetak kejuaraan. Dalam perlombaan, tentunya Teguh memasang target tersendiri bagi anak didiknya. Namun pastinya membutuhkan proses terlebih dahulu. “Target pastinya ada tetapi semua butuh proses, tidak ada yang langsung,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Jauhar Yohanis