Mengenal Soewito, Veteran Tertua di Nganjuk yang Pernah Berjuang Lawan Penjajah
Karen Wibi• Minggu, 17 Agustus 2025 | 16:00 WIB
VETERAN TERTUA: Soewito menunjukkan piagam tanda kehormatan sebagai pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
Berusia 92 Tahun karena Berjuang sejak Zaman Penjajahan Belanda
Kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa lepas dari perjuangan tentara perjuangan kemerdekaan. Dulu, di Nganjuk, banyak sekali pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan. Namun kini jumlahnya terus berkurang. Hingga tinggal menyisakan Soewito seorang diri. Seorang tentara yang sudah berjuang sejak usianya belasan tahun.
Namanya adalah Soewito. Seorang pria lanjut usia (lansia) yang tinggal di Desa/Kecamatan Rejoso. Ya benar, Soewito sudah tidak muda lagi. Bahkan usianya sudah menginjak 92 tahun. Lebih dua dari kemerdekaan Indonesia.
Meski sudah tua, Soewito masih ingat bagaimana usia mudanya. Termasuk ketika dirinya menjadi tentara mengusir penjajah. Ya benar, dulu, saat masih muda, Soewito ikut dalam barisan tentara perjuangan. Bahkan dia juga terdaftar sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Dulu masih kecil sudah ikut perang. Kadang di sini (Rejoso, red) diberi senjata pistol buat jaga-jaga,” ujarnya saat ditemuidi rumahnya pada Selasa lalu (12/8).
Karena masih kecil, Soewito lebih banyak menghabiskan waktu berlindung. Berjaga-jaga ketika keadaan genting. Beruntung tidak banyak peristiwa besar yang terjadi di Rejoso. Dia pun selamat hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.
Namun perjuangan Soewito tidak berhenti di situ saja. Karena pasca kemerdekaan, masih banyak tentara dari Belanda dan Jepang yang masih menjajah Indonesia. Dia pun memutuskan untuk mendaftar sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang di kemudian hari namanya berganti menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) lalu TNI. “Saat itu saya mendaftar di Surabaya. Kalau di Nganjuk relatif sepi,” ujar pria yang kini sudah memiliki delapan cicit itu.
Perjalanan karir Soewito dimulai kala itu. Sekitar tahun 1950. Namun sebelum diterjunkan di lapangan, tentara-tentara tersebut mendapat tes terlebih dahulu. Tujuannya untuk melihat potensi kemampuan. Hingga akhirnya Soewito ditempatkan di bagian teknik komunikasi radio. Tugasnya adalah untuk menyebarkan informasi dari satu markas ke markas lainnya.
Kala itu, tentara yang bertugas di bagian teknik komunikasi radiobukanlah orang sembarangan. Harus orang yang benar-benar cerdas. Karena mereka dituntut untuk mengerti sandi morse hingga bahasa asing. Entah itu bahasa Inggris atau Belanda. “Dulu tentara di bagian teknik komuniasi radio yang bisa sandi morse hingga bahasa asing itu hanya hitungan jari. Salah satunya termasuk saya,” tandasnya.
Bahkan berkat kemampuannya itu, Soewito juga menjadi tentara yang ikut dalam perang besar di Indonesia. Mulai dari perang melawan penjajah di Maluku Utara, Papua Barat, hingga di Timor Leste.
Soewito lalu mengakhiri perjalanan sebagai tentara pada tahun 1986. Kala itu, usianya sudah 53 tahun. Usia yang cukup tua untuk pensiun dari TNI. Karena di tahun ini, usia pensiun seorang TNI adalah 48 tahun. “Setelah pensiun saya kembali pulang ke Nganjuk. Menghabiskan waktu bersama anak, cucu, bahkan hingga cicit saya,” tandasnya. (wib/tyo)