Berusia 105 Tahun, Kisah Jirah Ikut Perang Gerilya Bersama Jenderal Soedirman
Karen Wibi• Minggu, 24 Agustus 2025 | 16:00 WIB
jirah
Jirah, Pejuang Asli Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Nganjuk memiliki banyak pejuang saat merebut kemerdekaan Republik Indonesia dan mempertahankannya. Salah satu yang masih hidup adalah Jirah. Dia menjadi saksi hidup perjuangan Jenderal Soedirman di Kota Angin. Jirah ikut perang gerilya di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret mendampingi Soedirman mengusir penjajah dari bumi Anjuk Ladang.
Desa Bajulan adalah salah satu desa di Kecamatan Loceret. Desa yang berada di kaki pegunungan Wilis itu menjadi salah satu desa paling ujung di Kabupaten Nganjuk. Lokasi yang terpencil itu juga yang menjadikan Desa Bajulan sepi dari kunjungan masyarakat.
Meski sepi, Desa Bajulan menyimpan banyak sejarah yang seru untuk diulik. Terlebih tentang sejarah pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Karena sekitar tahun 1949 terdapat perang gerilya di Desa Bajulan. Perang itu terjadi antara pasukan Jenderal Soedirman dengan tentara Belanda. “Dulu, waktu saya masih berusia sekitar 20 tahun, Jenderal Soedirman datang ke sini dari Kediri,” ujar Jirah, salah satu orang yang ikut dalam pasukan perang Jenderal Soedirman.
Ya benar, Jirah termasuk anggota pasukan perang Jenderal Soedirman di Desa Bajulan. Rumah perempuan itu juga berada di Desa Bajulan. Dulu rumahnya berada di lokasi yang kini dijadikan Monumen Jenderal Soedirman di dekat area Air Terjun Roro Kuning. Namun, kini berpindah ke dekat pintu masuk Air Terjun Roro Kuning.
PEJUANG KEMERDEKAAN: Jirah duduk di teras rumah. Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi pemasok logistik untuk pasukan Jenderal Soedirman saat perang gerilya di Desa Bajulan, Kecamatan Loc
Perempuan yang kini berusia 105 tahun itu menceritakan awal mula pertemuannya dengan Jenderal Soedirman. Saat itu, rombongan Jenderal Soedirman baru saja tiba dari Kediri. Mereka sedang kabur dari kejaran Tentara Belanda.
Kebetulan Jenderal Soedirman memiliki hubungan pertemanan dengan orang tua Jirah. Lebih khususnya ayah dari Jirah. Karena mencari perlindungan, Jenderal Soedirman dan rombongan akhirnya menetap di Desa Bajulan selama sembilan hari. “Pak Dirman (panggilan untuk Jenderal Soedirman, red) tinggal di rumah warga,” tambah Jirah saat ditemui di rumahnya itu.Baca Juga: Masak Sayur Tewel untuk 60 Tentara, Kisah Jirah Pejuang Logistik Pasukan Jenderal Soedirman
Lalu apa tugas Jirah di pasukan perang Jenderal Soedirman? Jirah menjelaskan jika dirinya kebagian tugas logistik. Setiap hari, dia menyiapkan makanan untuk sekitar 60 prajurit. Mereka berasal dari pasukan Jenderal Soedirman dan masyarakat yang ingin membantu.
Selama sembilan hari itu juga Jenderal Soedirman aman di Desa Bajulan. Hingga akhirnya keberadaan pasukan tersebut diketahui tentara Belanda. Mau tak mau, Jenderal Soedirman dan rombongan harus berpindah tempat.
Mereka lalu menuju ke Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan. “Saya masih diberikan selamat. Saat Belanda ke sini, saya sembunyi di dalam rumah,” kenangnya. (wib/tyo)