Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Awalnya Gunakan Google Translate untuk Komunikasi

Habibah Anisa M. • Sabtu, 13 September 2025 | 23:30 WIB

Photo
Photo
Satu Tahun Perjalanan Tasha di Konya, Turki

Sudah satu tahun Tasha Nur Luansa menginjakkan kaki di Kota Konya, Turki. Perempuan kelahiran tahun 2000 itu datang sebagai penerima beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Namun, sebelum resmi kuliah, ia diwajibkan mengikuti program belajar bahasa Turki selama sepuluh bulan.

“Jadi sesuai program beasiswa, semua mahasiswa asing harus ikut kelas bahasa dulu,” tutur Tasha saat berbagi cerita kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Selama masa belajar bahasa, Tasha mendapat fasilitas asrama. Satu kamar diisi empat orang dari berbagai negara. Awalnya ia sekamar dengan mahasiswa asal Pakistan, namun merasa kurang cocok sehingga pindah. Setelah itu ia berbagi kamar dengan mahasiswa asal Arab.

Belajar bahasa Turki bukan hal mudah baginya. Struktur kalimat yang berbeda jauh dari bahasa Indonesia dan Inggris membuat Tasha sering salah ucap. “Orang Turki suka menambahkan imbuhan di akhir kalimat, itu bikin bingung,” kenangnya.

Namun ada satu kata yang paling mudah diingat: merhaba (halo). Untuk bisa lulus, ia harus mencapai level C1. Jika gagal selama dua tahun, beasiswanya bisa dicabut. “Setiap level ada ujiannya. Kalau lulus bisa lanjut ke level berikutnya. Alhamdulillah, nilai aku paling bagus di kelas,” ujarnya bangga.

Photo
Photo

Belajar Lewat Aktivitas Sehari-hari

Menurut Tasha, kunci menguasai bahasa adalah praktik. Bahkan, aktivitas sederhana seperti memasak bersama teman sekamar membantunya berlatih. “Karena di kamar banyak orang Turki, mau tidak mau harus belajar cepat,” katanya.

Awalnya, Tasha hanya bisa mengandalkan bahasa Inggris. Itu pun terbatas, karena tidak semua orang Turki paham. Jalan pintasnya? Google Translate. “Hampir dua minggu pertama ke mana-mana pakai Google Translate. Lama-lama akhirnya bisa mengerti,” cerita Tasha sambil tersenyum.

Siap Memulai S2

Setelah lulus kelas bahasa, Tasha tidak lagi tinggal di asrama. Kini ia menetap di apartemen bersama mahasiswa Indonesia lain dari Makassar dan Balikpapan.

Perkuliahan S2 akan dimulai pada 15 September 2025. Meski baru resmi berjalan pekan depan, ia sudah tahu siapa dosen pembimbingnya sejak awal hingga nanti menyusun tesis. Kebetulan, dosen tersebut pernah ditemuinya di acara Indonesia Modest Fashion Festival.

“Semester pertama berjalan sampai awal Januari, lalu libur seminggu, lanjut ke semester dua. Tahun kedua baru fokus tesis,” jelasnya.

Tasha mengambil jurusan yang sesuai dengan passion: sustainability dan modest fashion. Ia menilai bidang ini sangat penting di masa depan. “Aku ingin setelah lulus bisa jadi dosen sekaligus fashion designer,” ucapnya mantap.

Editor : Miko
#S2 Fashion #s2 #perjalanan #google translate #nganjuk #komunikasi #mahasiswa #turki #konya