Meski tujuan awalnya menginjakan Turki adalah mencari ilmu. Namun, Tasha Nur Luansa tidak menyia-nyiakan kesempatan sekali seumur hidupnya itu untuk mengeksplor Turki. “Selama di sini sudah lima kali ke Istanbul,” cerita Tasha dengan nada bersemangat.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, Tasha bercerita selain berkunjung ke Istanbul ia juga berkunjung ke bursa, cappadocia, dan konya. Dengan waktu yang tidak banyak, ia berusaha menggunakan waktu luangnya untuk berwisata. “Jadi karena waktu di sini tidak lama, jadi aku harus tahu banyak wisata yang tahu,” imbuhnya.
Perempuan berusia 25 tahun ini menjelaskan bahwa setiap tempat wisata di Turki ini memiliki tema masing-masing. Bagi wisatawan yang menyukai sejarah bisa berkunjung ke Istanbul.
Dari semua lokasi sejarah didatanginya, yang paling berkesan ini ketika berkunjung di Istana Dolmabahce.
Lokasi tersebut adalah tempat lokasi serial Turki berjudul Hurrem atau dikenal dengan Abad Kejayaan. “Bangunanya itu mewah banget, namun sayang di dalam tidak boleh memotret,” ujar Tasha.
Saat berkunjung ke Istana Dolmabahce ia harus tetap membayar. Meski statusnya sebagai mahasiswa. Untuk dapat masuk ke sana, khusus mahasiswa membayar sekitar Rp 90 ribu. Sedangkan kalau wisatawan dari luar harus membayar lebih mahal.
Kebanyakan tempat wisata berupa bangunan istana harga tiketnya dikatakan mahal. Namun selain itu juga ada tempat wisata yang tidak bayar adalah hagia sophia. “Waktu ke Hagia Sophia ini tidak bayar untuk salat, namun tidak bisa masuk sampai ke dalam untuk yang cewek,” imbuhnya.
Tidak hanya mengunjungi tempat bersejarah, selama disana ia juga mencoba mengunjungi Gunung Uludag yang berada di Bursa. Di sana ada tempat wisata ski. Karena keterbatasan uang saku, di sana ia hanya mencoba naik gondola. Setiba di atas hanya menikmati pemandangan. “Karena begitu dingin gak bisa lama-lama,” kata Tasha.
Untuk mengunjungi tempat wisata di sana sangat didukung oleh sarana transportasinya. Baik mulai dari transportasi kereta, atau kapal. Di sana ada kereta yang menembus laut, kereta lambat, dan kereta cepat.
Selama tinggal di sana, rupanya Tasha tidak begitu cocok dengan makanan di sana yang dominan daging. Baik daging sapi, ataupun daging kambing.
Jika menu pada saat itu tidak cocok, ia memilih untuk membeli makanan asia di luar. Meski harganya sangat mahal. Sebab di sana untuk Asian Mart yang menjual bahan-bahan atau makanan Asia tidak ada. Adapun itu harus ikut jastip bagasi. “Paling cocok makanan di sini adalah kebab,” pungkasnya. (ara/tyo)
Editor : Miko