AKP Heri Buntoro menjadi Kasi Propam Polres Nganjuk kemarin (6/11). Jabatan itu merupakan pengalaman baru bagi Heri. Karena selama ini, dia dikenal sebagai polisi jalan raya. Sejak bertugas pada 1993 hingga kemarin, dia lebih banyak bertugas mengatur lalu lintas dan menangani kecelakaan.
NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Karier Heri di kepolisian dimulai dari Polsek Wilangan pada tahun 1993. Kemudian, dia pindah ke Satlantas Polres Nganjuk. Selama 27 tahun, Heri akrab dengan pet putih, peluit, dan penanganan kecelakaan lalu lintas. Jabatan terakhirnya di Satlantas Polres Nganjuk adalah Kanit Gakkum dengan pangkat Iptu, posisi yang menuntut ketegasan dalam penegakan hukum di jalan.
Namun, mutasi kembali datang dalam tubuh Polri. Kali ini, Heri mendapat amanah baru.
Pangkatnya naik menjadi Ajun Komisaris Polisi (AKP), dengan jabatan yang juga tak kalah strategis, Kasi Propam Polres Nganjuk. “Dari Satlantas ke Propam ini bagian dari dinamika,” ujarnya.
Peralihan itu tak hanya soal jabatan, tapi juga simbol. Dari pet putih ke baret biru. Dari mengurai kemacetan dan kecelakaan, kini ia berdiri di garda terakhir penegakan disiplin internal kepolisian.
Meski begitu, Heri tak melihat perpindahan ini sebagai beban. Ia justru menyebutnya sebagai bagian dari siklus pengabdian. Apalagi, Propam bukan dunia yang sepenuhnya asing baginya. Ia pernah bertugas di Propam selama tiga tahun di masa lalu. “Langsung melaksanakan tugas sesuai tupoksi. Tidak ada adaptasi khusus, karena sebelumnya sudah tahu tugas-tugas Propam,” tandasnya.
Di awal menjabat, Heri bersama jajarannya melakukan evaluasi. Kurang lebih selama sepekan, situasi internal dipetakan. Jika ada hal yang perlu dibenahi, akan dibenahi. Jika, ada pola kerja yang perlu disesuaikan, akan disesuaikan. “Intinya Propam itu garda terakhir. Tugasnya membantu pimpinan menjaga Polres Nganjuk dalam suasana kerja yang aman dan nyaman,” jelasnya.
Jika dulu, dia bergelut dengan laporan kecelakaan, kini fokusnya bergeser ke penegakan disiplin anggota. Namun bagi Heri, esensinya tetap sama, menegakkan aturan. “Gakkum sama Propam itu sebenarnya sama saja, tidak ada yang lebih berat,” ujarnya.
Ia meyakini setiap jabatan punya masa dan tantangan masing-masing. Tidak ada yang lebih berat atau lebih ringan. Semua tergantung bagaimana menjalani dan menyikapinya. “Siapapun pimpinannya, hidup pada jamannya,” katanya.
Ke depan, harapannya sederhana. Lingkungan kerja yang nyaman, anggota yang disiplin, dan pimpinan yang bisa menjalankan tugas dengan tenang. “Kalau anggotanya disiplin, pimpinan juga enak bekerja,” pungkasnya. (tyo)