Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Imam Ashari: Sosok Kepala Damkarmat Nganjuk yang Pilih Terjun ke Titik Api Demi Bakar Semangat Anggota.

Novanda Nirwana • Jumat, 9 Januari 2026 | 18:19 WIB

BERPENGALAMAN: Kepala Damkarmat Imam Ashari terjun ke TKP untuk motivasi anggota.
BERPENGALAMAN: Kepala Damkarmat Imam Ashari terjun ke TKP untuk motivasi anggota.

Lima bulan sudah Imam Ashari mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk. Jabatan yang awalnya tak pernah terlintas di benaknya. Meski sempat kaget mengemban amanah itu, Imam mengaku mulai menikmati karir barunya tersebut.  

“Adaptasinya Alhamdulillah bisa cepat di sini. Saya banyak belajar dari teman-teman,” ujar Imam. Menjadi kepala damkarmat membuat Imam kerja sat set. Dia tidak suka memberi instruksi panjang. Imam lebih memilih menularkan semangat. Baginya, Damkarmat adalah kerja tim. Karena itu, dia selalu terjun ke lapangan untuk memotivasi anggotanya. 

Bagi Imam, damkarmat berbeda jauh dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Nganjuk. Dunia yang digelutinya kala itu jauh berbeda.

Jika menjadi kepala kesbangpol ia akrab dengan dinamika politik dan urusan koordinasi lintas kepentingan, di damkarmat dia bersentuhan langsung dengan masyarakat. “Di sini banyak pelayanan kepada masyarakat yang kesusahan, terutama kebakaran dan sejenisnya. Kalau di Badan Kesbangpol Nganjuk, saya banyak berurusan dengan teman-teman politik,” tuturnya.

Perpindahan tugas yang kerap dialaminya justru membuat jejaring pertemanan Imam semakin luas. Ia juga tak benar-benar asing saat pertama kali masuk Damkarmat. Kepala Damkarmat sebelumnya Sujito, merupakan kolega lama. Komunikasi intens sudah terjalin sejak sama-sama masih bertugas di instansi berbeda. “Dulu sering curhat kegiatan masing-masing. Jadi waktu masuk sini tinggal menyesuaikan saja,” katanya. 

Apalagi, banyak personel Damkarmat Nganjuk yang senior. Imam tak sungkan bertanya dan menerima arahan dari staf. Baginya, pengalaman lapangan mereka adalah guru terbaik.

Tak hanya memantau dari balik meja, Imam kerap turun langsung ke lokasi kejadian. Salah satunya saat kebakaran besar timbunan kayu di kawasan Semantok. Peristiwa itu terjadi malam hari. Saat sebagian orang istirahat, Imam justru bersiaga. “Saya di rumah, tapi monitor grup terus. Ada info kebakaran, Pos Rejoso langsung meluncur, mako juga ikut,” kenangnya. 

Ia juga terjun di kejadian kebakaran lain, seperti di wilayah Sukomoro dan Ngetos, Mojoduwur.  Soal jam istirahat yang kerap terganggu, Imam menganggapnya sebagai konsekuensi jabatan. “Itu risikonya. Kalau kebakaran kecil saya tidak datang. Tapi kalau besar, saya perlu hadir, memberi semangat dan masukan ke teman-teman,” ujarnya.

Di lapangan, dia tak hanya memantau pemadaman, tetapi juga evaluasi cepat. Jika dirasa personel atau peralatan kurang, ia segera menghubungi pos terdekat untuk bantuan tambahan.

Yang paling membuatnya betah, kata Imam, adalah atmosfer di Damkarmat. Personelnya mayoritas masih muda, penuh tenaga, dan semangat.  “Saya senang di sini. Orang-orangnya muda-muda, tenaganya masih kuat,” katanya.

Padahal, di awal penugasan, Imam sempat kaget. Usianya sudah mendekati masa purnatugas. Ia tak pernah membayangkan kariernya di Damkarmat.  “Waktu dipindah ke sini, saya sempat mikir, wah saya ke damkar. Tapi ternyata saya malah senang,” pungkasnya. (tyo)

 

Editor : Miko
#Pemadam Kebakaran Nganjuk #Karakter Pemimpin #Kepala Damkarmat Nganjuk #Damkarmat Kabupaten Nganjuk #Tokoh Nganjuk