RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM- Lebih dari seabad setelah perjuangan R.A. Kartini, semangatnya terus hidup melalui sosok perempuan tangguh seperti Maika Nurhayati. Lahir di Kediri pada 1981, Maika melampaui batasan patriarki. Ia menempuh pendidikan hingga tingkat Doktoral Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia. Baginya, emansipasi adalah hak untuk menguasai ilmu tertinggi demi melindungi kehidupan.
Maika bukan sekadar akademisi, melainkan praktisi yang bergerak di berbagai sektor strategis. Ia menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Pencegahan dan Pengendalian Penyakit KADIN Indonesia dan aktif di Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Dia juga menjadi Focal Point Indonesia dalam forum internasional seperti ASEAN Women Entrepreneurs Network (AWEN).
Maika memimpin PT Putri Karya Mayaksa yang bergerak di ICT, sistem informasi kesehatan, dan teknologi keamanan. Salah satu produknya diadopsi RSUD dr. Iskak Tulungagung dan diakui sebagai model nasional. Bahkan perannya di kancah nasional juga tampak dari keaktifannya di Women Business Alliance Negara BRICS (WBA BRICS).
Sementara, lewat PT Trilogi Semesta Jaya, dia ikut mengembangkan perumahan subsidi di Kalijati, Subang, membuka akses hunian bagi keluarga berpenghasilan menengah bawah.
Kepeduliannya meluas hingga sektor UMKM. Maika aktif membantu pengrajin dan pelaku usaha kecil untuk naik kelas dengan memperkuat kreativitas serta membuka akses pasar internasional. Ia memandang perempuan pelaku UMKM sebagai aktor ekonomi krusial yang menjaga stabilitas keluarga dan komunitas.
Di balik kesuksesannya, Maika pernah merasakan titik jenuh akibat beban ganda antara karier dan peran sebagai ibu dari tiga anak. Ia menyadari bahwa menjadi tangguh bukan berarti harus sempurna. Ia memilih untuk membangun sistem kerja tim dan memprioritaskan kesehatan mental.
Baginya, kesuksesan sejati adalah dampak positif dan legacy yakni menjadi ibu yang hadir sepenuhnya sebagai benteng kesehatan mental anak serta pemimpin yang menginspirasi tanpa meninggalkan trauma. Maika menekankan bahwa perjuangan harus dilandasi iman dan ketangguhan. Merayakan Kartini masa kini berarti berani mengambil peran publik tanpa kehilangan keteduhan sebagai tempat pulang bagi keluarga.