“AYO kakak dibeli topinya. Mumpung diskon kakak,” ujar perempuan di depan handphone sembari menunjukkan sebuah topi berwarna hitam. Kalimat tersebut terus diulang. Tidak hanya dalam hitungan menit. Melainkan jam. Satu hingga dua jam.
Perempuan yang sedari tadi terlihat ngobrol di depan handphonenya itu sedang berjualan secara live. Dia menawarkan sebuah barang kepada pelangan yang sedang menonton live-nya di sebuah media sosial.
Alex, 24, pemilik toko thrift di Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk mengatakan kegiatan itu dilakukan setiap hari. Mereka menjual barang secara live. Dengan tujuan untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
“Karena di store sendiri tidak selalu ada customer. Jadi kami coba ke online dan ternyata penjualan ke online juga bagus,” ujarnya.
Dia melihat antusiasme para pembeli tidak hanya dari Nganjuk. Melainkan hingga ke luar kota. Bahkan beberapa kali dari luar negeri. Menurutnya, dengan merambah ke bisnis online, jangkauan penjualan bisa lebih luas.
“Jadi sistemnya di kami live. Dalam sehari ada tiga sesi live untuk menarik para pembeli,” tambah Alex.
Tiga sesi live tersebut ia dapat dengan melihat sejauh mana penonton live thrift-nya setiap hari. Sesi pertama yakni pada pukul 15.00-17.00 WIB, sesi kedua pukul 18.00-20.00 WIB, lalu sesi terakhir 21.00-23.00 WIB.
Penontonnya pun sangat bervariasi. Yakni sekitar umur 20 hingga 40 tahun. Namun, menurutnya, penonton sampai ke tahap transaksi biasanya umur 30 tahun keatas.
Hal yang senada juga turut disampaikan Maretha Koeshartatik, salah satu penjual thrift yang ada di Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk. Dia merambah dunia online untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.
“Kami setiap hari update di story whatsapp sama Instagram, makanya setiap ada pelanggan kami mintai nomornya,” papar Maretha.
Menurutnya, melalui online tersebut, dia bisa menjangkau pasar ke luar daerah. Hingga kini ia bisa mempunyai pelanggan dari Surabaya, Solo hingga Bojonegoro. (nov/wib)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira