Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kemiripan Film Pabrik Gula dan Film KKN Desa Penari: Horor yang Terasa Deja Vu?

Elna Malika • Senin, 7 April 2025 | 21:55 WIB
Kemiripan Film Pabrik Gula dan Film KKN Desa Penari: Horor yang Terasa Deja Vu?
Kemiripan Film Pabrik Gula dan Film KKN Desa Penari: Horor yang Terasa Deja Vu?

JP Radar Nganjuk - Dua film horor Indonesia, Pabrik Gula dan KKN di Desa Penari, sukses menyita perhatian penonton dengan kisah mistis yang mencekam. Keduanya berasal dari benang merah yang sama, yakni thread viral karya SimpleMan, penulis misterius yang terkenal dengan cerita-cerita horornya di media sosial.

Meskipun latar dan tokohnya berbeda, banyak yang merasa ada kemiripan mencolok antara kedua film ini. Apa yang membuat keduanya terasa seperti bayangan satu sama lain dalam dunia horor Tanah Air?

Premis dasar kedua film ini sama-sama mengisahkan sekelompok orang yang terjebak dalam situasi mengerikan karena ulah makhluk gaib. Dalam KKN di Desa Penari, sekelompok mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata di desa terpencil harus menghadapi teror Badarawuhi.

Di sisi lain, Pabrik Gula menceritakan para buruh musiman yang bekerja di sebuah pabrik tua dan berhadapan dengan kemarahan Maharatu, penguasa dunia gaib. Pola cerita tentang orang asing yang "mengganggu" entitas supranatural ini menjadi inti yang menghubungkan keduanya.

Tema hubungan terlarang juga menjadi pemicu utama konflik di kedua film. Di KKN di Desa Penari, kisah cinta terlarang antara Bima dan Ayu memicu murka Badarawuhi, membawa malapetaka bagi yang lain.

Serupa dengan itu, Pabrik Gula menampilkan pelanggaran tabu oleh seorang buruh yang membangkitkan kemarahan Maharatu. Tema ini seolah menjadi kunci untuk membangun ketegangan sekaligus memberikan alasan atas teror yang terjadi, menjadikannya formula yang familiar.

Sosok antagonis gaib dalam kedua film ini pun tak kalah ikonik. Badarawuhi hadir sebagai penari misterius yang menyeramkan dalam KKN di Desa Penari, sementara Maharatu muncul sebagai entitas berkuasa yang angker di Pabrik Gula.

Keduanya dikelilingi pengikut dari dunia lain yang siap meneror manusia, menciptakan kesan bahwa ancaman yang dihadapi bukan hantu sembarangan, melainkan sosok dengan kekuatan besar dan tujuan tertentu.

Dari sisi produksi, kedua film ini melibatkan tim yang sama. Disutradarai oleh Awi Suryadi, diproduksi oleh MD Pictures di bawah Manoj Punjabi, dan naskahnya ditulis oleh Lele Laila berdasarkan kisah SimpleMan, keduanya seolah mengikuti resep sukses yang sudah terbukti.

KKN di Desa Penari menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia, dan Pabrik Gula tampak berusaha mengejar jejak yang sama dengan pendekatan serupa dalam visual dan penyampaian cerita.

Struktur cerita keduanya juga terasa mirip.

Awalnya, suasana tampak tenang dan biasa saja, lalu kejadian aneh mulai bermunculan sebelum memuncak pada teror besar-besaran. Di KKN di Desa Penari, gangguan kecil seperti bisikan atau penampakan berubah menjadi ancaman nyawa.

Hal serupa terjadi di Pabrik Gula, di mana kejadian misterius di malam hari berujung pada bahaya mematikan bagi para buruh. Pola ini membuat penonton yang sudah menonton KKN merasa seperti mengulang pengalaman yang sama.

Meski begitu, latar tempat menjadi salah satu pembeda yang cukup jelas. KKN di Desa Penari mengambil setting desa terpencil dengan nuansa hutan dan budaya lokal, sedangkan Pabrik Gula berpusat pada pabrik tua yang penuh sejarah kelam.

Namun, kedua latar ini sama-sama menghadirkan kesan terisolasi dan misterius, yang memperkuat atmosfer horor. Perbedaan ini terasa lebih sebagai variasi daripada terobosan baru.

Kehadiran dua versi penayangan, cut dan uncut, juga menjadi kesamaan menarik. KKN di Desa Penari menawarkan versi uncut dengan adegan lebih gamblang, sementara Pabrik Gula menghadirkan "Jam Merah" untuk pengalaman yang lebih intens.

Strategi ini seolah menjadi ciri khas MD Pictures untuk memuaskan penggemar horor sekaligus menarik lebih banyak penonton, meskipun perbedaan durasi lebih terasa di KKN.
Bagi sebagian penonton, kemiripan ini justru menjadi titik lemah.

Ada yang menyebut Pabrik Gula sebagai "KKN versi pabrik" karena alurnya yang mudah ditebak dan kurang inovatif. Namun, bagi penggemar kisah SimpleMan, kesamaan ini adalah daya tarik tersendiri, menawarkan ketegangan, jumpscare, dan sentuhan lokal yang khas.

Pada akhirnya, kedua film ini seperti dua potret dari kanvas yang sama, berbeda rupa tapi serupa jiwa. Jadi, apakah Pabrik Gula hanya bayangan dari KKN di Desa Penari, atau bukti bahwa formula horor lokal ini masih memikat?

Terlepas dari perdebatan, keduanya menunjukkan kekuatan cerita SimpleMan dan tim produksi dalam mengangkat mistis Indonesia ke layar lebar. Bagi yang sudah menonton, mungkin saatnya menjawab: apakah kemiripan ini mengganggu, atau justru membawa kenangan manis dari teror yang pernah dirasakan?

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kemiripan #pabrik gula #film #radar nganjuk #KKN di Desa Penari #horor