NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pada libur Lebaran 2025, telah rilis berjudul Pabrik Gula. Film yang disutradarai Awi Suryadi ini mengangkat cerita viral berjudul sama karya SimpleMan.
Film garapan MD Pictures ini dibintangi oleh Arbandi Yasiz, Ersya Aurelia, dan Erika Carlina. Usai rilis beberapa waktu, film horror ini laris manis di bioskop dan banyak disukai penonton.
Di balik suksesnya film Pabrik Gula, ternyata di Nganjuk juga terdapat pabrik gula. Namanya adalah Pabrik Gula (PG) Lestari, yang lokasinya berada di Kecamatan Patianrowo.
Hingga hari ini, PG Lestari masih aktif produksi. Pengelolaannya di bawah manajemen PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) selaku salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut sejarah, PG Lestari berdiri pada tahun 1909. Lokasinya ada di Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo. PG yang berada tepat di barat Sungai Brantas ini berdiri mewah, megah, dan indah.
Konon, saat itu, PG Lestari dibangun oleh Keraton Surakarta Hadiningrat. Pembangunan itu hasil kerja sama dengan pemerintah setempat, agar investor mau menanamkan modal dan membuat industri pabrik gula.
Saat itu, pengelolaan PG Lestari juga melibatkan NV Maatschapipij Suikers Fabriek, perusahaan gula asal Belanda. Pada masa itu, gula menjadi komoditas unggulan dari Jawa.
Hingga kini, PG Lestari masih eksis memproduksi gula. Setiap musim giling tiba, ribuan ton tebu digiling menjadi gula di PG satu-satunya di Nganjuk itu.
Bangunan-bangunan asli peninggalan masa lampau masih tetap kokoh berdiri di sini. Termasuk puluhan rumah dinas pegawai di sana.
Suasana klasik dan asri juga masih terjaga. Rumah dan bangunan peninggalan era kolonial masih terawat dengan baik. Bahkan sehari-hari masih digunakan.
Biasanya sebelum memasuki musim giling, manajemen pabrik menggelar berbagai kegiatan yang bersifat hiburan masyarakat. Biasanya di halaman pabrik ada pasar malam selama hampir sebulan penuh.
Selain pasar malam, ada berbagai pertujunkan keseian. Seperti jaranan, wayang kulit, hingga seni hadrah maupun Salawatan. Ada pula berbagai perlombaan olahraga hingga jalan sehat berhadiah.
Sedangkan penanda awal musim giling, manajemen menggelar prosesi simbolis bernama Manten Tebu. Manten Tebu adalah tradisi turun-temurun, dimana tebu seolah dinikahkan agar memberi hasil maksimal.
Makna lain dari Manten Tebu ini adalah ungkapan doa dan harapan kepada Tuhan YME agar musim giling diberikan kelancaran dan kesuksesan. Sehingga pabrik dapat memberi manfaat bagi pekerja, karyawan, maupun masyarakat.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira