
Miliki Belasan Ribu Pengikut di Media Sosial
Hendri Gabungkan Konten Kuliner, Nganjuk, dan Promosi Bisnis
NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Hendri Lucky tidak ingin aktivitasnya di media sosial berhenti pada mengejar jumlah pengikut.
Sejak serius menjadi konten kreator pada 2026, pria tersebut justru melihat media sosial sebagai jalan untuk mengembangkan bisnis bersama istrinya.
Kini, akun TikTok Hendri telah memiliki lebih dari 4 ribu pengikut. Sementara di Instagram, jumlah pengikutnya sudah mencapai sekitar 11 ribu.
Jumlah tersebut tergolong cukup besar mengingat Hendri baru serius menggarap konten pada tahun ini.
Konten Media Sosial Ikut Dongkrak Penjualan
Hendri mengatakan, salah satu alasan dirinya mulai aktif membuat konten adalah untuk memperkenalkan bisnis toko emas yang dikelolanya bersama sang istri.
Saat ini, mereka mengelola tiga toko emas.
Menurut Hendri, strategi tersebut mulai memberikan dampak terhadap bisnis. Dia menyebut omzet toko emas yang dikelolanya meningkat sekitar 20 persen setelah aktif membuat konten.
“Memang salah satu motivasi saya ngonten ya ini, tercapai. Semenjak saya bikin konten ini juga sangat ngefek untuk toko emas yang saya kelola bersama istri,” ungkap Hendri.
Meski begitu, Hendri tidak ingin seluruh kontennya hanya berisi promosi atau pembahasan tentang emas.
Menurutnya, jika topik yang dibahas terlalu spesifik, jangkauan audiens bisa menjadi lebih terbatas.
Karena itu, dia mulai membuat konten dengan tema yang lebih beragam. Salah satunya kuliner dan berbagai hal menarik di Nganjuk.
“Kalau cuma ngomongin emas susah naik. Jadi saya juga merambah ke beberapa konten, misalnya konten makanan,” jelasnya.
Konten Mi Rp5 Ribu Bikin Warganet Kaget
Strategi tersebut membuat Hendri tidak hanya menyasar pengguna media sosial dari Nganjuk.
Latar belakangnya yang berasal dari Jakarta membuat pengikutnya juga tersebar di sejumlah daerah, termasuk Jakarta.
Salah satu konten yang menarik perhatian adalah ketika Hendri membahas kuliner murah di Nganjuk.
Dalam salah satu unggahannya, dia menunjukkan menu mi yang dijual dengan harga Rp5 ribu.
Harga tersebut justru membuat sejumlah warganet dari luar daerah terkejut.
“Konten saya yang ngomongin makan mi di Nganjuk Rp5 ribu, banyak yang protes. Mereka bilang kok murah,” tuturnya.
Dari respons tersebut, Hendri melihat bahwa konten tentang Nganjuk memiliki pasar tersendiri.
Tidak hanya menarik perhatian pengguna media sosial, konten semacam itu juga bisa menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan Nganjuk kepada masyarakat di luar daerah.
Ingin Kenalkan Nganjuk Lewat Media Sosial
Ke depan, Hendri ingin konsisten membuat konten yang mengangkat berbagai sisi Nganjuk.
Mulai kuliner, kehidupan masyarakat, hingga berbagai hal menarik yang menurutnya layak diketahui masyarakat luar daerah.
Bagi Hendri, semakin banyak orang mengenal Nganjuk, semakin terbuka pula peluang bagi pergerakan ekonomi daerah.
“Dengan konten variasi saya tentang Nganjuk nantinya juga bisa meningkatkan pariwisata Nganjuk,” ujarnya.
Dia menilai meningkatnya perhatian terhadap Nganjuk berpotensi membuat lebih banyak orang datang berkunjung.
Jika kunjungan meningkat, menurutnya, aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut bergerak.
“Nantinya kalau Nganjuk dikenal orang, orang makin banyak duit dan beli emas juga. Mindset saya di situ. Jadi nggak ada ruginya buat saya,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Novanda Nirwana