Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Muhammadiyah Tetapkan Hari Lebaran pada Jumat 20 Maret 2026: Oman Fathurohman Sebut Perbedaan Itu Wilayah Ijtihad, Bukan Sumber Konflik

rekian • Jumat, 20 Maret 2026 | 05:37 WIB

ASTRONOM MUHAMMADIYAH: Profil Oman Fathurrahman.
ASTRONOM MUHAMMADIYAH: Profil Oman Fathurrahman.

JP Radar Nganjuk – Kalender penanggalan Islam menjelang Idulfitri 1447 H mulai menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Pasalnya, ada potensi perbedaan hari raya antara warga Muhammadiyah dengan ketetapan pemerintah. Muhammadiyah diprediksi bakal merayakan 1 Syawal lebih awal, yakni pada Jumat, 20 Maret 2026.

Ketua Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Oman Fathurohman, membeberkan secara gamblang dasar penetapan tersebut. Menurutnya, Muhammadiyah kini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang bertumpu sepenuhnya pada metode hisab atau perhitungan astronomi yang akurat.

"Muhammadiyah sudah jelas. Berdasarkan KHGT, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026," ujar Oman sebagaimana dilansir dari laman resmi muhammadiyah.or.id.

Lantas, bagaimana dengan pemerintah? Oman menjelaskan bahwa ada perbedaan parameter dalam melihat hilal. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI selama ini menggunakan kriteria MABIMS. Yakni, tinggi hilal minimal harus 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat.

Nah, di sinilah letak titik perbedaannya. Berdasarkan data astronomi, pada malam 29 Ramadan atau Kamis malam (19/3/2026), posisi hilal di wilayah Indonesia diprediksi belum memenuhi kriteria MABIMS tersebut.

"Kalau melihat data, pada Kamis malam itu (hilal, Red) belum memenuhi kriteria. Maka, kemungkinan besar pemerintah akan menetapkan 1 Syawal pada Sabtu (21/3)," ulasnya mendalam.

Jika prediksi ini meleset tipis, maka umat Islam di Indonesia bakal menghadapi dua hari raya yang berbeda. Muhammadiyah di hari Jumat, dan pemerintah kemungkinan besar di hari Sabtu.

Oman menekankan bahwa penggunaan metode hisab oleh Muhammadiyah bukan tanpa alasan. Hisab dinilai memberikan kepastian waktu jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga, umat Islam bisa melakukan persiapan mudik maupun ibadah dengan lebih matang. Berbeda dengan rukyat (pengamatan mata telanjang) yang sifatnya lebih situasional dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Bahkan, Oman mengungkapkan fakta menarik dalam Sidang Isbat. Seringkali laporan rukyat dari lapangan ditolak jika hasil pengamatannya tidak sesuai dengan kriteria astronomis yang ada. "Kriteria itu bukan sekadar panduan, tapi alat verifikasi validitas rukyat," imbuhnya.

Menyikapi potensi "belah pinang" alias perbedaan hari raya ini, PP Muhammadiyah meminta warga untuk tetap tenang. Baginya, perbedaan metodologi adalah hal yang lumrah dalam khazanah keilmuan Islam dan merupakan konsekuensi dari ijtihad yang sah.

"Ini wilayah ijtihad. Potensi perbedaan ini bukan hal baru, tapi dinamika keilmuan. Yang paling penting adalah bagaimana kita semua menyikapinya dengan bijak dan dewasa. Perbedaan bukan sumber konflik," tegas Oman mengakhiri penjelasannya.

Editor : rekian
#1 syawal #hari lebaran #hisab #rukyat #pp muhammadiayh #idulfitri #muhammadiyah