radarnganjuk.jawapos.com– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai berimbas ke Tanah Air. Kabar terbaru, dua kapal tanker milik Pertamina sempat tertahan di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik yang memanas. Beruntung, setelah melalui lobi-lobi diplomatik yang alot, "lampu hijau" akhirnya didapatkan.
Penyumbatan jalur vital ini menjadi perhatian serius. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan urat nadi pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Jika jalur ini lumpuh, pasokan energi ke Indonesia bisa terganggu.
Baca Juga: ASN WFH: Ini Kebijakan Khofifah untuk Pemprov Jatim, Enam Instansi Ini Wajib Ngantor
Ketegangan memuncak sejak operasi militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Dampaknya, terjadi blokade de facto di kawasan tersebut. Tak main-main, sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di Teluk Persia karena tidak bisa melintas.
Dua kapal tanker Indonesia termasuk di antara ribuan kapal yang terjebak dalam ketidakpastian tersebut. Hal ini membuat Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Teheran bergerak cepat melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran.
Baca Juga: Taspen Kediri Bantah Kenaikan Gaji dan Pensiun 2026 Sebesar 12 Persen
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengakui bahwa menembus barikade di Selat Hormuz bukan perkara mudah. Namun, komunikasi terus dibangun untuk memastikan aset negara bisa keluar dengan aman.
"Kita komunikasi terus. Tidak mudah bisa keluar dari Selat Hormuz. Tapi komunikasi terus kita bangun," ujar Bahlil kepada awak media baru-baru ini.
Selain jalur diplomasi, pemerintah juga fokus pada perlindungan asuransi. Yakni memastikan jaminan keamanan bagi kapal yang melintasi zona merah. Termasuk juga kesiapan kru, memantau kondisi mental dan fisik kru kapal Pertamina yang berada di lokasi konflik. Juga terkait persiapan teknis, koordinasi rute alternatif dan prosedur keselamatan pelayaran.
Kabar baiknya, upaya tersebut membuahkan hasil. Dua kapal tanker Indonesia mendapat lampu hijau untuk melintasi Selat Hormuz. Respon positif dari otoritas Iran ini menjadi angin segar bagi ketahanan energi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.
Meskipun izin sudah dikantongi, pemerintah tetap waspada dan terus memantau pergerakan kapal hingga benar-benar keluar dari zona bahaya. Hal ini penting untuk memastikan stok BBM di dalam negeri, termasuk untuk distribusi ke daerah-daerah seperti Nganjuk dan sekitarnya, tetap stabil dan aman dari gejolak harga dunia.
Editor : rekian