radarnganjuk.jawapos.com– Jagat maya, khususnya di wilayah Nganjuk dan sekitarnya, tengah riuh dengan isu kenaikan harga BBM yang disebut-sebut bakal berlaku mulai besok, 1 April 2026. Pesan berantai yang memprediksi lonjakan harga "gila-gilaan" memicu kekhawatiran masyarakat akan efek domino terhadap harga kebutuhan pokok.
Warganet: Kenaikan Itu Keniscayaan
Meski pemerintah belum mengetok palu, sebagian besar warganet meyakini bahwa penyesuaian harga hanyalah tinggal menunggu waktu. Terutama untuk jenis BBM non-subsidi. Di kolom komentar media sosial Radar Nganjuk, banyak warga berpendapat bahwa harga minyak mentah dunia (crude oil) yang kian "semampai" membuat kenaikan menjadi hal yang sulit dihindari.
Prediksi liar yang beredar menyebutkan Pertamax bisa melonjak Rp 5.000 dari harga semula Rp 12.300, sementara Pertamina Dex diisukan naik hingga Rp 9.000.
“Gak mungkin (kenaikan, Red) ditunda lebih lama. Pembelian BBM sudah naik 66%,” ujar Ani, seorang warganet asal Kediri saat mengomentari unggahan di portal radarnganjuk.jawapos.com.
Warga juga menyoroti dilema keterlambatan penyesuaian harga. Saat ini, harga barang di pasar sudah mulai merangkak naik karena isu tersebut. Warga khawatir jika pemerintah menunda terlalu lama, maka saat BBM benar-benar naik, harga barang akan melonjak untuk kedua kalinya.
Pemerintah Pasang Badan: Pentingkan Rakyat
Merespons kegaduhan tersebut, pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara RI, Prasetyo Hadi, memberikan pernyataan tegas pada Selasa (31/3). Ia memastikan bahwa atas arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah tetap mengedepankan kepentingan rakyat kecil.
"Setelah kami melakukan koordinasi dengan Pertamina dan atas petunjuk Bapak Presiden, Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga, baik untuk BBM subsidi maupun non-subsidi," tegas Prasetyo.
Ia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terjebak dalam panic buying. Pemerintah menjamin stok BBM aman dengan harga yang tetap terjangkau.
Pertamina Jatimbalinus: Itu Hoaks!
Kabar burung yang menyebut Pertalite bakal naik jadi Rp 14.000 dan Bio Solar menyentuh Rp 9.500 langsung dibantah PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus.
Cholishon Liwajhillah, Senior Supervisor CSR & SMEPP Pertamina Jatimbalinus, menyatakan bahwa narasi terkait defisit APBN 3% dan harga minyak mentah yang dikaitkan dengan harga baru tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.
| Jenis BBM | Harga Isu (Hoaks) | Status Resmi |
| Pertalite | Rp 14.000 | Tetap Rp 10.000 |
| Bio Solar | Rp 9.500 | Tetap Rp 6.500 |
| Pertamax | Rp 16.000 | Belum Ada Penyesuaian |
"Informasi yang beredar saat ini tidak jelas sumbernya. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April," tegas Cholishon.
Ia mengimbau warga Nganjuk untuk selalu merujuk pada saluran resmi seperti website MyPertamina atau media sosial resmi Pertamina yang terverifikasi untuk mendapatkan data akurat.
Sumber: Komdigi, Pertamina Patra Niaga