Area berjualan takjil di Jalan Sri Gading, Desa Pacekulon, Kecamatan Pace benar-benar menjadi magnet bagi para pedagang takjil.
Tidak tanggung-tanggung, penjual yang ada di lokasi tersebut tidak hanya dari dalam Nganjuk.
Melainkan hingga dari luar Nganjuk. Salah satunya dari Kabupaten dan Kota Kediri.
Hal itu seperti yang dikatakan oleh Sutikno, 60, warga Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.
Dia mengatakan, dibanding beberapa kecamatan sekitar, Kecamatan Pace menjadi salah satu paling ramai.
“Kalau dibanding Tarokan, tempat jualan takjil di Pace ini lebih ramai,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Hal itu yang menjadikan Sutikno dan penjual takjil asal Kabupaten Kediri berbondong-bondong untuk datang.
Mereka berangkat dari Kediri sedari siang. Lalu pukul 15.00 WIB, mereka mulai untuk berjualan.
Sutikno mengaku bukan satu-satunya penjual takjil asal Kabupaten Kediri.
Karena masih banyak penjual takjil lain yang juga berasal dari Kabupaten dan Kota Kediri.
Tentu Sutikno memiliki alasan kenapa berjualan di Kecamatan Pace. Salah satunya karena lokasi tersebut dianggap strategis.
Lokasinya berada di jalan raya Kediri-Nganjuk. Alhasil jumlah pengunjung lebih banyak dibanding jalan-jalan lainnya.
“Karena kalau ke Kota Kediri sudah full. Jadi ke sini saja karena sama-sama ramainya,” tambahnya.
Lalu berapa omzet yang didapat Sutikno? Menanggapi pertanyaan itu, keuntungan yang didapat Sutikno satu harinya sangat bervariasi.
Sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Bahkan jumlah tersebut bisa bertambah banyak ketika akhir pekan.
“Kalau akhir pekan pasti tambah ramai. Biasanya nanti kalau mau lebaran juga tambah ramai,” tandasnya. (wib)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira