Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kampung Lontong Surabaya: Sentra Produksi yang Tak Pernah Tidur Sejak 1974

Miko • Senin, 14 Juli 2025 | 20:59 WIB

TELATEN: Salah satu pembuat lontong di Kampung Lontong, Sutri, 63, sedang memasukkan beras ke dalam daun pisang
TELATEN: Salah satu pembuat lontong di Kampung Lontong, Sutri, 63, sedang memasukkan beras ke dalam daun pisang

Di tengah padatnya kawasan permukiman Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, Surabaya, terdapat sebuah kampung yang terus hidup tanpa henti. Namanya dikenal sebagai Kampung Lontong, tempat ratusan ribu lontong diproduksi setiap hari.

Aktivitas warga di kampung ini dimulai sejak dini hari. Mereka menyiapkan bahan, menggulung lontong, dan merebusnya dalam panci-panci besar. Begitu fajar menyingsing, ribuan lontong itu sudah siap dikirim ke berbagai sudut Kota Pahlawan.

Sejarah Kampung Lontong bermula pada tahun 1974. Seorang warga bernama Rahmiyah menjadi pelopor produksi lontong rumahan. Tak hanya memproduksi, ia juga berbagi keterampilan kepada tetangga-tetangganya.

Baca Juga: Rekomendasi Warung Kikil di Nganjuk, Cocok untuk Wisata Kuliner Akhir Pekan

“Almarhumah Bu Rahmiyah itu orang pertama yang ngajari cara bikin lontong, dari mulai melipat daun pisang sampai teknik memasaknya. Dari situ usaha ini mulai berkembang," ungkap Joko Prasetyo, Pengawas Koperasi Sentra Lontong Mandiri, Rabu (2/7/2025).

Kini, usaha lontong telah menjadi tulang punggung ekonomi bagi sekitar 64 kepala keluarga di RW 2, RW 6, dan RW 7 Jalan Banyu Urip Lor. Produksi tak hanya dilakukan oleh generasi pertama, tapi telah diwariskan hingga generasi ketiga.

Photo
Photo

Ritme kerja di kampung ini hampir tanpa jeda. Proses pengolahan dimulai pagi hari, lalu malam harinya lontong-lontong tersebut direbus dan dikemas untuk didistribusikan. Tak heran, Kampung Lontong dikenal sebagai kampung yang tidak pernah tidur.

“Orang luar sering kaget kampung ini kok ramai terus. Ya karena memang kerja kita mulai dari pagi sampai malam, supaya subuh sudah bisa kirim lontong ke pasar,” kata Joko.

Setiap rumah tangga bisa memproduksi 1.000 hingga 2.500 lontong per hari. Lontong-lontong ini disalurkan ke berbagai pasar tradisional seperti Pasar Mangga Dua, Pasar Simo, hingga Pasar Banyu Urip, serta ke pelaku usaha kuliner dan katering. Harga jualnya berkisar Rp2.000 per buah.

Baca Juga: Bosan Berwisata di Air Terjun Sedudo? Ini Dia Daftar Air Terjun yang Ada di Nganjuk

Menurut Ayu (29), generasi ketiga penerus usaha lontong, dalam sehari keluarganya bisa mengisi hingga 27 keranjang lontong, masing-masing berisi sekitar 70 buah.

Tak hanya jadi pusat ekonomi warga, Kampung Lontong kini juga menjadi destinasi wisata edukasi. Pengunjung bisa menjelajah kampung, ikut pelatihan membuat lontong, mencicipi berbagai olahan lontong, hingga membawa pulang suvenir khas.

 

Tokoh nasional pun pernah mengunjungi kampung ini. Mulai dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, hingga Chef Arnold Poernomo, juri MasterChef Indonesia.

Baca Juga: Taman Bhinneka Surabaya: Wisata Edukasi Baru Bertema Toleransi dan Budaya

Jika kamu tertarik merasakan atmosfer kampung yang hidup selama 24 jam penuh ini, Kampung Lontong Surabaya adalah destinasi yang penuh inspirasi, tempat di mana tradisi, ketekunan, dan ekonomi rakyat bertemu dalam harmoni.

Editor : Miko
#Aktivitas #surabaya #tokoh nasional #wisata edukasi #kecamatan sawahan #ekonomi #lontong #sejarah #kampung #destinasi wisata #Kampung Lontong