JP Radar Nganjuk -Di acara car free day yang digelar di sepanjang Jalan Darmo, Surabaya, pengunjung bisa menemukan beragam makanan khas, salah satunya yang mulai langka: pecel semanggi. Kuliner tradisional ini sekilas mirip dengan pecel biasa, namun yang membedakan adalah bumbu khasnya yang menggunakan ubi jalar, seperti dijelaskan oleh Tince, seorang penggemar pecel semanggi berusia 60 tahun.
Tince mengungkapkan bahwa saat ini daun semanggi mulai sulit ditemukan, tak seperti masa mudanya dulu ketika makanan ini sangat mudah dijumpai. Seporsi pecel semanggi biasanya disajikan dalam pincuk daun pisang, berisi daun semanggi, bunga turi, dan kecambah, lalu disiram dengan bumbu yang terdiri dari ubi jalar, kacang tanah, gula merah, dan petis, memberikan rasa yang lebih manis dari pecel biasa.
Baca Juga: Siomay Legendaris di Depan Kompleks SDN Banjaran
Sajian ini juga dilengkapi dengan kerupuk puli, kerupuk gurih yang dibuat dari nasi dan menjadi pelengkap sempurna untuk hidangan ini. Pecel semanggi diyakini berasal dari Surabaya Barat, di mana dulu warga memanfaatkan tanaman semanggi liar di sekitar rumah.
Dahulu, penjual pecel semanggi menjajakan dagangan mereka secara keliling dengan rinjing (pikulan). Kini, selain dijajakan keliling, pecel semanggi juga dijual di pusat perbelanjaan, meski harganya jauh lebih mahal. Di CFD, harganya hanya Rp 10–15 ribu, sementara di mall bisa mencapai Rp 35 ribu.
Editor : Jauhar Yohanis