Menelusuri Sentra Roti di Desa Garu, Awalnya Hanya Satu Orang Sekarang Jadi Sekampung
Karen Wibi• Minggu, 17 Agustus 2025 | 12:30 WIB
SENTRA ROTI KOTA ANGIN: Pengendara sepeda motor melintas di Desa Garu, Kecamatan Baron yang menjadi sentra roti di Kabupaten Nganjuk kemarin.
Menelusuri Sentra Roti di Desa Garu, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Nganjuk memiliki sebuah kampung unik di Desa Garu, Kecamatan Baron. Orang memanggilnya dengan nama Kampung Sentra Roti. Karena memang, di tempat tersebut, terdapat belasan pembuat aneka macam roti. Bahkan produksi roti dari kampung tersebut sudah dikirim hingga ke luar kota.
TAK ada yang aneh dari Desa Garu di Kecamatan Baron. Kondisi jalanan di desa tersebut tampak seperti biasanya. Namun akan berubah ketika pengunjung tiba di Desa Garu sebelah utara. Karena saat memasuki tempat itu, terdapat sebuah penanda masuk ke sebuah wilayah. Tulisannya “Selamat Datang di Sentra Roti”.
PRODUKSI RUMAHAN: Pembuat roti di Desa Garu, Kecamatan Baron menerima pesanan dari berbagai daerah setiap hari.
Ya, benar. Sentra Roti. Orang di sekitar lebih mengenalnya dengan Kampung Sentra Roti. Karena memang, di tempat tersebut banyak ditemukan pembuat roti. Jumlahnya tidak hanya satu atau dua saja. Melainkan sekampung.
Namun uniknya, tidak ada ciri khas Sentra Roti di tempat tersebut. Tidak ada tempat penjual roti yang menyediakan etalase berisikan roti yang dipajang. Ditambah tidak ada pembeli yang datang untuk membeli kue.
Ciri-ciri Kampung Sentra Roti yang terasa hanyalah bau proses pembuatan roti. Setiap harinya, mulai pagi hingga sore, rumah-rumah di kampung tersebut akan memproduksi kue. Bau kue yang baru saja keluar dari oven tersebut akan tercium di sepanjang jalan. “Semuanya di sini skalanya rumahan. Tidak ada toko atau etalase untuk memajang roti yang dijual,” ujar Mujib, 52, salah satu pemilik usaha pembuat roti di Kampung Sentra Roti di Desa Garu.
Warga di Desa Garu, Kecamatan Baron menjadi pembuat roti untuk mata pencaharian.
Mujib menjelaskan, tidak ada yang tahu pasti sejak kapan kampung tersebut disebut sebagai Kampung Sentra Roti. Namun jika tidak salah, sekitar 20 tahun yang lalu, terdapat seorang warga yang membuat usaha toko roti bolu. Kebetulan warga tersebut baru saja bekerja di sebuah toko roti di Kecamatan Kertosono.
Tak diduga usaha tersebut sukses. Banyak pembeli yang datang dari luar Desa Garu. Hingga orang tersebut akhirnya menularkan ilmunya ke warga sekitar. Sejak saat itu banyak warga yang memberanikan diri untuk membuat usaha rotinya sendiri.
Sedangkan Mujib memulai usaha roti miliknya sejak sekitar 15 tahun yang lalu. Kala itu, Mujib tidak menjual roti “modern”. Melainkan roti basah yang biasa dijual di pasar tradisional. Namun seiring berjalannya waktu, Mujib harus membuat inovasi. Tujuannya agar usahanya tidak ditinggal pelanggan. Hingga akhirnya dia ikut membuat roti “modern” seperti masyarakat sekitar.
Cerita yang sama juga dijelaskan oleh Atik, 40, warga sekitar. Berbeda dari pembuat roti yang memulai dari awal, dirinya mendapat warisan usaha tersebut dari mertua. Semuanya terjadi sekitar tahun 2013 lalu. Namun roti yang dijual oleh mertuanya dulu masih berupa kue basah. “Sedikit demi sedikit rotinya saya modifikasi agar dapat mengikuti permintaan pasar,” ujarnya. (wib/tyo)