Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Taman Sari: Jejak Sejarah Pemandian Permaisuri di Jantung Jogja

Internship Radar Kediri • Jumat, 22 Agustus 2025 | 23:10 WIB
Gambar Taman Sari Yogyakarta
Gambar Taman Sari Yogyakarta

JP RADAR NGANJUK-Jika Malioboro adalah wajah ramai Yogyakarta, maka Taman Sari adalah sisi misteriusnya. Kompleks bersejarah yang berada di sisi barat daya Keraton Yogyakarta ini dulunya merupakan tempat rekreasi, meditasi, sekaligus benteng rahasia bagi Sultan dan keluarganya.

Taman Sari dibangun pada abad ke-18 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan pengaruh budaya Jawa dan Eropa (Kraton Jogja, 2024).

Kolam Pemandian Sang Permaisuri

Bagian paling terkenal dari Taman Sari adalah Umbul Binangun, kompleks kolam pemandian dengan tiga kolam besar. Konon, Sultan biasa duduk di menara tinggi untuk menyaksikan para permaisuri dan putri keraton yang sedang mandi.

Dari sana, Sultan dapat memilih permaisuri yang akan menemaninya (Kraton Jogja, 2024). Tradisi ini menunjukkan bagaimana Taman Sari bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga bagian dari ritual kehidupan istana.

Lorong Rahasia & Masjid Bawah Tanah

Selain kolam, Taman Sari memiliki lorong bawah tanah yang menyambungkan area keraton dengan berbagai titik penting di luar. Lorong-lorong ini berfungsi sebagai jalur pelarian jika terjadi serangan musuh.

Salah satu bangunan uniknya adalah Sumur Gumuling, masjid bawah tanah berbentuk lingkaran dengan arsitektur menyerupai labirin. Menurut penelitian Aurelia & Wiyoso (2022), desain ini bukan hanya religius, tetapi juga simbolis: bentuk lingkaran melambangkan kesempurnaan dan keabadian.

Arsitektur Jawa-Eropa yang Magis

Taman Sari menampilkan perpaduan arsitektur Jawa tradisional dengan sentuhan Eropa dan Portugis. Seorang arsitek Portugis yang dikenal dengan nama Demang Tegis dipercaya terlibat dalam perancangan bangunan ini.

Ciri khasnya terlihat pada dinding-dinding tebal, lengkungan pintu bergaya barok, serta penggunaan kanal air yang mengingatkan pada kastil Eropa. Namun, tetap ada nuansa kosmologi Jawa yang menyimbolkan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas (Aurelia & Wiyoso, 2022).

Dari Istana Air Jadi Magnet Wisata Dunia

Awalnya, kompleks Taman Sari memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan berupa kolam, kanal air, dan taman. Kini, yang tersisa hanya sebagian kecil akibat kerusakan dari gempa serta perubahan fungsi lahan menjadi permukiman warga (Kraton Jogja, 2024). Meski begitu, pesonanya tetap memikat wisatawan dari seluruh dunia.

Fun Fact: Meski dikenal sebagai “Water Castle”, Taman Sari sejatinya berfungsi ganda: tempat rekreasi sekaligus benteng pertahanan. Jaringan lorong bawah tanah dan jalur airnya dirancang agar Sultan dan keluarga bisa bertahan dan melarikan diri jika keraton dalam keadaan bahaya (Kraton Jogja, 2024).

 

Penulis: Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa Magang UN PGRI Kediri

Editor : Jauhar Yohanis
#Keraton #taman sari #jogja #permaisuri #Pemandian