JP RADAR NGANJUK - Gyeongbokgung Palace adalah salah satu destinasi wisata paling ikonik di Korea Selatan, tempat di mana kamu bisa merasakan langsung nuansa kejayaan Dinasti Joseon. Terletak di jantung kota Seoul, tepat di utara Gwanghwamun Square, istana ini menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan.
Sebagai istana kerajaan terbesar yang dibangun pada masa Dinasti Joseon, Gyeongbokgung menyimpan banyak kisah sejarah dan arsitektur klasik yang masih terjaga hingga kini. Begitu melangkah masuk, kamu akan disambut dengan suasana megah sekaligus hangat, di mana para wisatawan tampak mengenakan hanbok, pakaian tradisional Korea, yang membuat atmosfer terasa seperti kembali ke masa lalu.
Untuk bisa masuk ke kawasan istana, kamu perlu membeli tiket seharga 3000 Won. Namun, ada pengecualian menarik. Pada Rabu terakhir setiap bulan, tiket masuk gratis. Begitu juga pada hari-hari besar seperti Seollal (Tahun Baru Imlek Korea) dan Chuseok (Hari Panen). Lebih menyenangkan lagi, jika kamu datang mengenakan hanbok, tiket masuk juga digratiskan.
Salah satu momen yang tidak boleh kamu lewatkan adalah Changing of the Guard Ceremony atau upacara pergantian prajurit. Upacara ini berlangsung dua kali sehari, pukul 10 pagi dan 2 siang, tepat di depan Gerbang Utama Gwanghwamun.
Prajurit dengan seragam tradisional Joseon yang berwarna cerah, lengkap dengan tombak, pedang, serta genderang besar, berbaris rapi mengikuti aba-aba komandan.
Dentuman drum dan tiupan terompet kuno mengisi udara, membuatmu seolah-olah sedang menyaksikan peristiwa nyata dari ratusan tahun lalu. Suasana hening sejenak ketika bendera kerajaan dikibarkan, lalu berganti riuh tepuk tangan para wisatawan yang kagum. Rasanya seperti benar-benar berada di masa Dinasti Joseon, menyaksikan istana dijaga dengan penuh wibawa.
Tak hanya istana, kawasan Gyeongbokgung juga menyimpan museum bawah tanah yang dikenal dengan Sejong Iyagi (세종 이야기) atau The Story of King Sejong. Terletak di bawah patung Raja Sejong yang agung di Gwanghwamun Square, ruang ini menyajikan kisah penciptaan Hangeul, abjad Korea, yang lahir dari pemikiran Raja Sejong. Di dalamnya, kamu bisa melihat bagaimana huruf-huruf Hangeul awal masih berdampingan dengan aksara Tionghoa klasik (Hanja).
Di salah satu bilik, terdapat pameran berjudul The Principle of the Creation of Hangeul, yang menjelaskan filosofi sederhana namun mendalam dari sistem tulisan ini. Raja Sejong menciptakan Hangeul dengan tujuan mulia, agar rakyatnya, termasuk kalangan bawah, bisa membaca dan menulis dengan mudah.
Menariknya, kamu juga bisa menemukan kisah tentang suku Cia-Cia dari Sulawesi, Indonesia. Suku ini sempat mengadopsi Hangeul sebagai alfabet mereka, dan alasannya dijelaskan di dalam ruang pameran tersebut. Fakta ini membuat kunjunganmu terasa semakin dekat, bukan hanya dengan sejarah Korea, tetapi juga dengan hubungan budaya lintas negara.
Setelah puas berkeliling, kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan naik bus menuju Samcheongdong Sujebi untuk mengisi perut. Restoran ini terkenal dengan hidangan khas Korea yang ramah di kantong wisatawan. Bila masih ingin berpetualang kuliner, berjalanlah ke kawasan Ikseondong untuk mencicipi roti garam yang populer.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis