JP RADAR NGANJUK-Setiap delapan tahun sekali, Keraton Yogyakarta menggelar prosesi sakral yang dikenal sebagai Jejak Benteng atau Jejak Banon. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Sekaten Tahun Dal, yang tidak hanya sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai simbol penyebaran Islam, rasa syukur, dan kebersamaan antara kerajaan dan rakyat.
Prosesi Jejak Benteng ini bertujuan untuk mengenang perjuangan Pangeran Mangkubumi, dalam menyelamatkan diri dari musuh setelah salat Jumat di Masjid Gedhe. Menurut sejarah, Pangeran Mangkubumi berusaha meloloskan diri dari kepungan musuh dengan cara yang cerdik, salah satunya dengan menendang tembok benteng yang terbuat dari bata. Tindakan ini menjadi simbol keberanian dan kecerdikan dalam menghadapi ancaman.
Pada prosesi Jejak Benteng, Sri Sultan melakukan tindakan simbolis dengan menjejakkan kaki pada tumpukan bata yang melekat pada sisi selatan Masjid Gedhe. Tindakan ini tidak hanya sebagai penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya dan sejarah Keraton Yogyakarta. Prosesi ini diikuti oleh para abdi dalem dan masyarakat sekitar, yang turut serta dalam momen bersejarah ini.
Kamis (4/9) terasa istimewa di kompleks Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Ratusan warga berdesakan, sebagian rela menunggu sejak sore hanya untuk menyaksikan momen langka: prosesi Jejak Banon, sebuah tradisi sakral Keraton Yogyakarta yang hanya digelar delapan tahun sekali.
Di tengah gemerlap lampu dan doa yang khidmat, Sri Sultan Hamengku Buwono X melangkah mantap menjejakkan kaki di atas tumpukan bata yang roboh. Suasana seketika hening, sebelum sorak-sorai dan doa warga kembali membahana.
Secara filosofis, Jejak Benteng melambangkan semangat budaya Jawa dan Islam dalam mendobrak tatanan lama yang berkaitan dengan urusan keagamaan. Tradisi ini membuka cakrawala baru bagi masyarakat Jawa terhadap agama Islam yang baru masuk di tanah Jawa. Selain itu, prosesi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan, strategi, dan keteguhan hati dalam menjaga Keraton dan wilayah Yogyakarta dari ancaman musuh.
Jejak Benteng bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan upaya pelestarian budaya dan identitas Yogyakarta. Melalui prosesi ini, masyarakat diajak untuk mengenang sejarah dan perjuangan leluhur, serta menjaga warisan budaya yang telah ada. Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Baca Juga: Ada Empat Keberangkatan Sehari, Kereta Ini Jadi Favorit Warga Nganjuk ke Jogja
Prosesi Jejak Benteng merupakan salah satu contoh bagaimana tradisi dapat menjadi sarana untuk mengenang sejarah, melestarikan budaya, dan mempererat hubungan antara kerajaan dan rakyat. Dengan adanya tradisi ini, diharapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Di era serba digital, tradisi seperti Jejak Banon membuktikan bahwa akar budaya masih kokoh tertanam di hati masyarakat. Antusiasme warga, doa yang mengalir, hingga rebutan pecahan bata menjadi bukti nyata bagaimana ritual keraton tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Penulis: Annisa Aulia Mujiono-Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya-Magang Jawa Pos Radar Kediri
Editor : Jauhar Yohanis