Dari Nasi Pecel Rp 3 Ribu hingga Jadi Kuliner Legendaris
Miko• Sabtu, 13 September 2025 | 21:30 WIB
Rumah makan mbah die Mengenal Rumah Makan Padang Pertama di Nganjuk
Kabupaten Nganjuk memiliki keanekaragaman kuliner yang tak terhitung jumlahnya. Dari banyaknya kuliner di Nganjuk, ada sebuah nasi padang yang dikenal legendaris. Orang-orang mengenalnya dengan nama Rumah Makan Padang Swalayan Mbah Die. Rumah makan nasi padang yang ternyata menjadi pelopor di Kota Angin.
Berapa jumlah rumah makan nasi padang di Kabupaten Nganjuk? Pasti jumlahnya sudah sangat banyak. Tidak hanya puluhan. Melainkan hingga ratusan. Namun ternyata, sejarah rumah makan nasi padang di Nganjuk bermula dari sebuah rumah makan sederhana di Kecamatan Sukomoro.
Orang-orang menyebutnya dengan nama Rumah Makan Padang Swalayan Mbah Die. Diketahui rumah makan tersebut menjadi pelopor nasi padang di Nganjuk. Sudah ada sejak sekitar tahun 1996.
Namun uniknya, bukan masakan padang yang mulanya dijual di tempat itu. Melainkan nasi pecel. Ya, nasi pecel. Salah satu makanan khas dari Nganjuk. “Awalnya dulu bukan nasi Padang, tapi nasi pecel,” ujar Suti Endang, 60, pemilik Rumah Makan Padang Swalayan Mbah Die kepada wartawan koran ini.
Dia bercerita, usaha kuliner itu mulanya dirintis oleh sang ayah, Mbah Die. “Hidup kan perlu makan, jadi papa masak, jual nasi pecel buat sarapan orang,” ujarnya.
Di era itu, nasi pecelnya laris manis. Bahkan, setiap ada acara pemilihan lurah, pesanan bisa tembus seratus bungkus. “Harganya masih Rp 3 ribu, kadang ada yang pesan 50 bungkus sekaligus,” tambahnya.
Photo
Namun, dari obrolan sederhana dengan pelanggan, titik balik usaha ini justru muncul. Beberapa pembeli kerap bertanya, apakah ada lauk tambahan. Karena berasal dari keluarga Padang, Suti dan keluarganya mencoba memasak rendang serta ayam balado. Awalnya masakan itu hanya untuk disantap sendiri. Tak disangka, justru banyak yang cocok dengan rasanya. “Awalnya masak rendang, kok enak dan ternyata malah diterima pelanggan,” jelasnya.
Perlahan tapi pasti, nasi pecel mulai tersisih. Menu rendang, ayam balado, dan gulai nangka semakin diminati. Hanya butuh waktu tiga sampai lima tahun, pecel benar-benar hilang dari meja jualannya. Warung itu resmi dikenal sebagai nasi Padang pertama di Nganjuk. “Kami masaknya itu ya otodidak saja. Tidak ada resep khusus. Pokoknya dirasa enak, cocok sama orang, ya sudah,” jelasnya.
Kini, warung Suti buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 19.30 WIB. Dari rumah gedeg sederhana, usahanya berkembang menjadi salah satu ikon kuliner di Nganjuk. “Yang penting orang makan kenyang, puas, cocok sama rasanya. Itu saja yang bikin saya bertahan sampai sekarang,” pungkasnya. (nov/wib)