Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Makan Nasi Sepuasnya, Bayar Cuma Lauknya

Novanda Nirwana • Sabtu, 13 September 2025 | 22:05 WIB

Rumah Makan Padang Swalayan Mbah Die
Rumah Makan Padang Swalayan Mbah Die
Mengenal Rumah Makan Padang Pertama di Nganjuk

RUMAH Makan Padang Swalayan Mbah Die memiliki tradisi unik yang masih dipertahankan sejak tahun 1996 silam. Yaitu warung yang mengusung konsep prasmanan. Pelanggan bisa mengambil nasi sepuasnya, namun hanya membayar lauk. “Dari awal konsepnya memang prasmanan. Ngirit tenaga juga,” ujar Suti Endang, 60, si pemilik warung.

Tradisi itu berawal dari keprihatinan Suti. Dulu warung tersebut biasa mengambilkan nasi untuk pelanggan. Namun ternyata banyak pelanggan yang tidak cocok dengan porsinya. Alhasil banyak nasi yang terbuang.

Tak ingin hal itu terjadi, Suti lalu mengubah konsep di rumah makan itu. Dari yang mengambilkan nasi menjadi prasmanan. Pelanggan bebas mengambil nasi sendiri. “Jadi takarannya pas. Tidak ada nasi yang terbuang,” tambahnya sembari mengatakan meski mengambil nasi sepuasnya, pelanggan hanya perlu membayar lauk. Harganya cukup terjangkau. Mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu.

Ketika ditanya soal kemungkinan pelanggan berbohong, misalnya mengambil lauk lebih banyak tapi mengaku sedikit, Suti dengan tenang menggeleng. Baginya, makanan adalah soal kepercayaan.  “Saya percaya tidak ada orang makan itu berbohong. Paling kadang lupa saja. Misalnya kemarin lupa ambil kerupuk belum bayar,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, dia hanya memberi pesan sederhana kepada kasir. Saat pelanggan membayar, kasir cukup mengingatkan. Lauk apa saja yang sudah diambil, apakah ada tambahan kerupuk atau minuman.  “Kalau dia bilang tidak ada tambahan ya sudah, yang disebutkan itu yang ditotal. Kalau lupa ya nggak apa-apa,” katanya.

Namun, Suti percaya, jika ada pelanggan yang lupa dan diingatkan nantinya pelanggan akan malu dan tidak akan balik lagi. Sehingga ia lebih memberikan kepercayaan lebih kepada pelanggannya. “Kalau lupa terus diingetin, dia tidak balik lagi karena malu, ya malah rugi dua kali,” ucap Suti.

Konsep prasmanan ala Suti ini akhirnya jadi ciri khas. Di tengah persaingan warung makan yang makin banyak, kepercayaan dan keikhlasan justru jadi bumbu rahasia yang membuat warung nasi Padang legendaris itu tetap bertahan hingga kini. (nov/wib)

Editor : Miko
#padang #makan nasi #kuliner #Bayar 10 persen dari Total Klaim #lauk #nganjuk #rumah makan