Kisah Inspiratif Pemilik Rumah Makan Padang Swalayan Mbah Die
BAGI sebagian orang, melihat mantan anak buah membuka usaha serupa bisa menimbulkan rasa waswas. Namun, tidak bagi Suti Endang. Dia justru merasa bangga, karena itu ilmu yang diajarkannya bermanfaat. Selain itu, menunjukkan bahwa masakan Padang bisa diterima di Kota Angin.
Buktinya, tiga orang mantan anak buahnya kini sudah punya warung nasi Padang sendiri. Ada yang 17 tahun ikut membantu di dapurnya sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha mandiri. Ada pula yang memilih buka di Kecamatan Sukomoro bersama suami dan anaknya. “Ya nggak apa-apa. Saya sama sekali tidak merasa tersaingi,” ujar Suti.
Dia bahkan mendukung penuh langkah mereka. Menurutnya, kalau sudah mahir memasak, kenapa tidak mencoba membuka usaha sendiri. “Malah saya sarankan ke orang-orang, kalau sudah pintar masak ya buka saja. Tapi memang tidak semua orang bisa begitu,” tambahnya.
Bagi Suti, rasa takut bersaing hanya akan menghambat diri. Apalagi, di Nganjuk kini warung nasi Padang sudah banyak bertebaran. “Kalau kita takut bersaing, apa yang ditakuti? Justru untungnya, sejak awal berdiri saya tetap di sini. Jadi kalau ada orang nyari, mereka tahu saya tidak pindah-pindah,” jelasnya.
Sikap legawa itu membuat warungnya tetap bertahan hingga saat ini. Suti percaya, pelanggan datang bukan hanya karena rasa, tapi juga karena konsistensi dan kepercayaan. “Rezeki itu sudah ada yang ngatur, jadi tidak perlu dipikirkan,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Miko