JP RADAR NGANJUK Sejak 1946, kelezatan sate kelopo legendaris ini bertahan di tengah gempuran ratusan kafe modern dan food hall—sebuah harmoni kuliner yang mencerminkan blend of traditions and modernity.
Di pusat kota yang terus berubah, dua dunia kuliner tampak hidup berdampingan tanpa saling mengusik. Di satu sisi, Sate Kelopo Ondomohen yang telah berdiri sejak 1946 tetap setia menyajikan cita rasa klasik dengan bumbu kelapa parut yang khas. Di sisi lain, deretan kafe kekinian dan food hall mewah menawarkan tren terbaru kopi spesialitas, dessert viral, dan konsep bersantap yang instagenik.
Inilah potret unik Surabaya: kota yang menghargai warisan tradisi tanpa menolak modernitas.
Baca Juga: Bebek Sinjay, Kuliner Madura yang Bikin Ketagihan! Dari Warung Kecil Kini Melegenda hingga Surabaya
Warisan Rasa Sejak 1946
Sate Kelopo Ondomohen bukan sekadar tempat makan—ia adalah saksi bisu sejarah kuliner Surabaya. Didirikan hampir 80 tahun lalu, kedai ini masih mempertahankan resep autentik yang diwariskan turun-temurun. Setiap porsi sate di sini disajikan dengan bumbu kelapa parut yang digoreng hingga garing, memberikan sensasi renyah dan gurih yang khas.
“Kami tidak ingin mengubah cita rasa original. Banyak pelanggan yang sudah dari kecil makan di sini, sekarang datang bersama cucu-cucunya,” kata Muhammad Arif, generasi ketiga pengelola Sate Kelopo Ondomohen.
Lokasinya yang tidak jauh dari kawasan pusat bisnis dan hiburan membuat Ondomohen tetap menjadi destinasi wajib bagi pecinta kuliner tradisional—baik warga lokal maupun turis.
Gelombang Kekinian: Kafe dan Food Hall yang Menjamur
Tak jauh dari Ondomohen, suasana berubah drastis. Puluhan kafe dengan desain interior minimalist, industrial, atau tropical vibe ramai didatangi anak muda. Food hall seperti Pakuwon Mall atau BG Junction menawarkan puluhan tenant kuliner dari berbagai belahan dunia—mulai dari street food Thailand hingga burger gourmet.
Tren ngopi ala third wave coffee juga merebak. Kedai-kedai kopi spesialitas seperti Lawang Kopi atau Indra Coffee Roaster kerap dipadati pengunjung yang ingin menikmati racikan manual brew atau sekadar berfoto dengan latar yang aesthetic.
Blend of Cultures: Tradisi dan Modernitas yang Berpadu
Keberadaan Ondomohen di tengah gelombat kafe kekinian bukanlah pertanda pertarungan. Justru, kedua elemen ini saling melengkapi dan mencerminkan dinamika Surabaya sebagai kota metropolitan yang tetap berpegang pada akar budaya.
Baca Juga: Nasi Pecel Godong Jati, Sensasi Makan di Pawon ala Desa di Nganjuk
Banyak pengunjung kafe modern yang akhirnya melirik kuliner tradisional seperti Sate Kelopo Ondomohen sebagai “comfort food” setelah mencoba berbagai hidangan kekinian.
Sebaliknya, generasi tua yang sudah lama mengenal Ondomohen kini perlahan mulai mencoba experience baru di kafe-kafe modern.
“Inilah kekuatan Surabaya. Kota ini tidak meninggalkan identitasnya, tapi juga terbuka terhadap hal baru. Kuliner adalah cerminannya,” ujar Dian Sastrowardoyo, pengamat kuliner dan budaya Jawa Timur.
Baca Juga: 6 Makanan Khas Manggarai Yang Wajib Dicoba Saat ke Wae Rebo
Tetap Relevan di Tengah Perubahan
Ketahanan Sate Kelopo Ondomohen di tengah persaingan bisnis kuliner membuktikan bahwa rasa autentik dan nilai nostalgia tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Sementara kafe dan food hall modern menghadirkan variasi dan experience baru yang juga dibutuhkan terutama bagi generasi muda.Kedua model kuliner ini tidak saling menggantikan, melainkan bersama-sama membentuk mosaik kuliner Surabaya yang kaya dan berwarna.
Kesimpulan:
Surabaya tidak memaksa kita memilih antara tradisi dan modernitas. Di sini, kita bisa menikmati sate kelopo warisan 1946 di pagi hari dan menyeruput kopi kekinian di sore hari—sebuah blend of cultures yang sempurna.
Baca Juga: Bakso Full Daging Ruko Hayam Wuruk Kota Kediri ! Satu Mangkok Penuh Hanya Rp 10 Ribu
Dita Amelia Ningsih Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis