JP RADAR NGANJUK - Tempoyak adalah makanan tradisional yang terbuat dari fermentasi buah durian. Hidangan ini sangat populer di daerah Sumatera, Kalimantan, hingga Malaysia, terutama di kalangan masyarakat Melayu. Diperkirakan, tempoyak sudah ada sejak ratusan tahun lalu sebagai bentuk kearifan lokal untuk mengawetkan durian saat musim panen tiba.
Karena durian tidak bisa disimpan lama, masyarakat Minangkabau, Lampung, hingga Dayak di Kalimantan kemudian mengolahnya menjadi tempoyak, sehingga bisa bertahan lebih lama sekaligus memberi cita rasa baru yang khas.
Proses Pembuatan Tempoyak Dan Bahan
Bahan-bahan:
Daging buah durian matang secukupnya (pisahkan dari bijinya)
Garam (sebagai pengawet alami dan penambah rasa)
Cara Membuat:
1. Pisahkan daging durian dari bijinya, lalu lumatkan hingga halus.
2. Tambahkan garam secukupnya (biasanya 1 sdt garam untuk 3–4 sdm daging durian).
3. Masukkan ke dalam wadah tertutup (stoples kaca atau plastik kedap udara).
4. Diamkan pada suhu ruang selama 3–5 hari agar proses fermentasi berjalan. Semakin lama difermentasi, rasa asamnya akan semakin kuat.
5. Setelah jadi, tempoyak bisa langsung dipakai untuk sambal, gulai, atau disimpan dalam lemari es agar lebih awet.
Karakteristik Rasa dan Nilai Budaya
Tempoyak memiliki cita rasa unik yang tidak semua orang bisa langsung suka, tapi bagi pecintanya, ini adalah makanan yang sangat menggugah selera.
Dalam budaya Melayu, tempoyak sering dihidangkan dalam acara keluarga atau tradisi tertentu sebagai pelengkap lauk.
Karena berbahan dasar durian, tempoyak juga mencerminkan kekayaan hasil bumi tropis Indonesia.
Tempoyak adalah bukti kreativitas masyarakat Nusantara dalam mengolah bahan makanan lokal. Dengan proses fermentasi sederhana, buah durian bisa disimpan lebih lama sekaligus menghasilkan cita rasa baru yang khas. Paling nikmat disantap sebagai sambal pedas atau gulai ikan tempoyak bersama nasi hangat.
Baca Juga: Dari Nasi Pecel Rp 3 Ribu hingga Jadi Kuliner Legendaris
Penulis : Shafura Maulida Abdillah _ Mahasiswa Magang Universitas Dian Nuswantoro
Editor : Jauhar Yohanis